Happy New Year 2012! Awal tahun biasanya menjadi sebuah lembaran kehidupan baru bagi banyak orang. Sebagian besar membuat new year resolutions untuk dapat memperbaiki diri dan meraih mimpi di tahun yang baru dimulai. Tidak lepas dari Indonesia, sudah sepatutnya negara ini membuat new year resolutions untuk menghadapi tantangan ekonomi yang semakin rumit.
Mungkin banyak media sudah menjelaskan bahwa tahun 2012 merupakan tahun penuh tantangan bagi Indonesia. Salah satunya adalah melambatnya ekonomi global: belum pulihnya Amerika Serkat dari krisis 2008 dan terjadinya krisis baru (mata uang dan public debt) di Eropa. Seperti apa yang dikatakan sebagian besar media, saya setuju bahwa ini akan berdampak kepada pertumbuhan ekonomi Indonesia (walaupun mungkin tidak terlalu besar).
Oleh karena itu, jika berbicara tentang new year resolutions, saya lebih tertarik mendiskusikan permasalahan ekonomi dalam negeri Indonesia yang sudah ada dari masa ke masa. Saya rasa sudah saatnya kita menangani permasalahan kita dengan serius agar kita bisa mendapatkan momentum pertumbuhan ekonomi. Apalagi kita sudah mendapatkan investment grade di akhir tahun 2011 kemarin. Akan sangat disayangkan bila kita gagal menggunakan kesempatan ini dan membiarkan para investor terlepas dari genggaman kita.
Masalah klasik
Salah satu tantangan utama perekonomian Indonesia, yang telah menjadi masalah klasik, adalah birokrasi. Sebagai contoh, rata-rata untuk memulai sebuah bisnis di Indonesia memakan waktu lebih dari 5 bulan. Sedangkan di Hong Kong hanya memakan waktu rata-rata 5 hari. Perbandingan ini jelas bahwa rumit dan panjang nya proses birokrasi di Indonesia merupakan disincentive untuk mengundang para investor asing. Masalah birokrasi lainnya adalah peraturan pemerintah pusat dan daerah yang sering tidak synchronised, sehingga sering membingungkan pihak pengusa di Indonesia.
Masalah klasik lainnya adalah lemahnya daya serap APBN kita. Pada tahun 2011 kemarin penyerapan APBN kita hanya sekitar 97.5% dan terjadi penumpukan di bulan desember. Kasus yang serupa juga terjadi di tahun 2010 dan di tahun tahun sebelumnya. Tidak maksimalnya penyerapan APBN ini tentu membuat pertumbuhan perekonomian kita juga tidak maksimal, karena banyaknya program-program pembangunan negara yang tidak terlaksana.
Infrastruktur juga menjadi salah satu kendala utama. Seperti yang kita ketahui, baiknya infrastruktur adalah salah satu nilai kuat untuk menarik investor asing masuk ke Indonesia. Dengan didapatkannya investment gradei dari Fitch Ratings Agency, kita harus memperbaiki sarana infrastruktur di seluruh negeri. Baik itu jalan tol, pelabuhan maupun lapangan udara. Menurut kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Tekonologi (BPPT), Marzan Iskandar, kualitas infrastruktur kita berada di peringkat 6 untuk kawasan ASEAN dan 57 dunia. Buruknya kualitas infrastruktur ini menghambat produksi karena tinggi nya biaya logistik (hingga 20%-30% biaya produksi). Rubuhnya jembatan di Kalimantan Timur pada akhir tahun lalu tentunya dapat menjadi pelajaran bagi kita bahwa pengadaan sarana infrastruktur di Indonesia masih jauh dari maksimal. Bila hal-hal seperti ini terjadi lagi di masa yang akan datang, ini tidak hanya mempermalukan negara kita saja, namun juga membuat investasi enggan untuk masuk ke negara kita.
Langkah yang diambil pemerintah
Untuk menghadapi masalah-masalah "klasik" yang sudah saya sebutkan di atas, pemerintah mengambil beberapa langkah-langkah untuk mengatasi atau setidaknya mengurangi permasalahan tersebut. Mengenai APBN, pemerintah akan melakukan koordinasi penyerapan anggaran agar APBN 2012 dapat terserap lebih baik lagi. Dari sektor infrastruktur, saya baca di harian Bisnis Indonesia edisi 3 Januari 2012, bahwa pemerintah akan mengalokasikan sisa APBN 2011 untuk pembangunan infrastruktur. Selain itu, pemerintah juga akan memberikan insentif pajak ke 129 sektor usaha, termasuk infrastruktur, agroindustri dan energi.
Langkah lain yang diambil pemerintah adalah pencabutan subsidi BBM yang akan dimulai secara bertahap di tahun 2012 ini. Walaupun cukup banyak mengundang kontroversi (seperti bakal naiknya inflasi dll), menurut saya langkah ini sudah cukup tepat, selama dana subsidi ini bisa dialokasikan tepat sasaran secara efektif dan efisien untuk pembangunan negara (seperti pembangunan infrastruktur, sekolah dll). Harga BBM di Indonesia relatif sangat murah jika dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia. Selain itu, subsidi BBM kebanyakan hanya menguntungkan kalangan menengah ke atas. Walaupun harus diakui dampak ini juga akan berdampak kepada UKM sehingga imbasnya dapat menaikkan inflasi, saya percaya BI akan dapat mengatasi hal ini melihat BI dapat menahan inflasi tahun 2011 cenderung stabil dan di bawah target inflasi.
Singkatnya, kebanyakan hambatan yang dihadapi negara kita adalah masalah-masalah klasik yang sudah dihadapi dari masa ke masa. Kabar baiknya, pada tahun 2012 ini pemerintah akan banyak mengambil langkah positif untuk menangani masalah tersebut. Yang kita harapkan adalah, agar perencanaan ini dapat terimplementasikan dengan baik (alias bukan rencana belaka seperti yang sering terjadi di negara kita ini). Pelaksanaan program-program ini tidak hanya harus terselesaikan tepat waktu, namun juga harus tepat sasaran. Sebagai contoh, walaupun pemerintah sudah pernah memberikan fasilitas tax holiday, namun pelaksanaannya tidak sesuai harapan karena cost yang dikeluarkan perusahaan lebih banyak dari benefit yang didapat. Contoh lainnya adalah mengganti pembangunan jembatan selat sunda (JSS) yang tidak mendesak dengan membangun saran infrastruktur lain seperti pelabuhan, jalan dan perbaikan lapangan udara yang jelas lebih mendesak dan bermanfaat. Oleh karena itu, mari kita harap agar hal-hal seperti ini tidak terjadi lagi di masa yang akan datang karena kita tidak boleh kehilangan momentum pertumbuhan perekonomian yang sudah ada di depan mata. Dan marilah kita, dari setiap golongan masyarakat, untuk mendukung program-program pemerintah yang positif untuk membangun bangsa Indonesia.
Ekonomi untuk semua!
Blog tentang teori ekonomi, literatur ekonomi, fenomena ekonomi, dan konsep-konsep ekonomi. Diskusi dan komentar terbuka untuk siapa saja!
Wednesday, 4 January 2012
Wednesday, 21 September 2011
Mampukah Euro Bertahan?
Pada Januari 1999, beberapa negara Eropa menyetujui penggunaan mata uang Euro sebagai mata uang regional yang mengganti mata uang lokal di masing-masing negara. Penerbitan mata uang Euro sebagai mata uang resmi sebagian negara Eropa ini jelas disambut dengan antusias baik di Eropa maupun di bagian dunia lainnya, seiring dengan besarnya visi dan harapan yang digantungkan kepada mata uang ini. Pada awalnya penggunaan mata uang Euro sebagai mata uang bersama ini dapat mengurangi biaya transaksi negara-negara Eropa dan merupakan sebuah langkah besar menuju economic integration.
Namun, lebih dari satu dekade kemudian, stabilitas dan kredibilitas Euro mulai tergoyang. Krisis berkepanjangan di Yunani yang diperkeruh krisis susulan di Irlandia, membuat orang mulai mempertanyakan apakah sebuah Monetary Union di Eropa adalah jalan yang tepat dalam menciptakan sebuah economic integration di Eropa. Dalam hal ini, keputusan untuk menangani krisis dari negara-negara besar Eropa seperti Perancis dan terutama Jerman sangatlah diperlukan dan ditunggu oleh semua pihak. Tahun lalu ketika krisis pertama kali terjadi, bail-out telah diberikan kepada negara-negara yang bermasalah. Tahun ini, krisis kembali terjadi dan menunggu keputusan berikutnya untuk diambil.
Sebuah blog ekonomi Eropa majalah The Economist, Charlemagne's notebook, menuliskan bahwa Jerman masih belum memberikan kejelasan mengenai sikap yang akan diambil dalam menghadapi krisis mata uang Euro ini. Padahal, keputusan Jerman sangatlah diperlukan untuk mengembalikan kembali kepercayaan terhadap mata uang tersebut. Ada beberapa kemungkinan langkah yang dapat diambil Jerman. Salah satunya dengan mem bail-out kembali negara-negara yang terkena masalah hutang. Namun hal tersebut hanya akan membuat negara-negara tersebut manja dan tidak menanggapi masalah ini dengan serius. Kemungkinan lainnya dengan mengeluarkan negara-negara bermasalah dari European Monetary Union. Tetapi ini akan berimpas kepada pasar ekspor Jerman karena negara-negara bermasalah tersebut akan terjun ke krisis yang lebih dalam jika dikeluarkan dari Euro.
Untuk Kedepannya
Pada saat ini, ada hal-hal pasti diperlukan untuk menyelamatkan Euro. Salah satu nya adalah kepastian mengenai negara mana yang dianggap bermasalah dan mengenai kemampuan bank-bank Eropa untuk menghindari kebankrutan. Kepastian ini penting untuk menjaga sentimen pasar internasional. Sudah beberapa minggu ini pasar internasional cenderung mendapat sentimen negatif akibat ketidakpastian ini. Sentimen ini menyerang negara-negara Eropa yang sebenarnya masih terbilang "likuid" seperti Spanyol dan Italia. Bila ini berkepanjangan, tentu negara-negara yang berada di ambang krisis ini dapat terseret oleh negara bermasalah seperti Yunani dan Irlandia. Bahkan sentimen ini terus berdampak kepada IHSG Indonesia dan mata uang Rupiah yang terus mendapat tekanan tajam sejak beberapa hari terakhir.
Hal lain yang diperlukan adalah sebuah restrukturisasi dan reformasi kebijakan fiskal negara-negara Eropa untuk lebih fokus kepada pertumbuhkan ekonomi. Selama ini pemerintah di negara-negara Eropa terlalu teracu kepada pemotongan anggaran negara. Sebuah restrukturisasi kebijakan tentunya akan bermanfaat jika dapat meingkatkan kembali performa ekonomi negara-negara Eropa dan memulihkan optimisme di dalam dinamika perekonomian global. Sebuah ide ekstrim disampaikan oleh beberapa orang penting di Jerman seperti Ursula von der Leyen (Menteri Tenaga Kerja) dan Gerhard Schroder (mantan Kanselir Jerman). Ide ini adalah penggabungan kebijakan fiskal negara-negara Eropa dengan membentuk Eropa Serikat. Walaupun ide ini terlihat sangat ekstrim dan mungkin memakan waktu yang lama, bukan tidak mungkin untuk benar-benar diimplementasikan. Singkatnya, apapun ide yang dikemukakan, bila ini dapat terealisasikan dengan baik, ini tentunya dapat dijadikan sebagai sebuah acuan untuk mencegah krisis yang sama di masa yang akan datang.
Oleh karena itu, kepastian dari Jerman dalam menghadapi krisis kali ini sangatlah krusial. Karena negara-negara Eropa sudah terjebak buah simalakama yang membuat pengambilan keputusan menjadi lebih sulit. Walaupun mungkin saat ini bisa performa mata uang Euro cukup buruk, penarikan mata uang Euro dari negara-negara Eropa tidak akan menyelesaikan masalah. Sebuah kalkulasi oleh bang asal Swiss, UBS, memprediksikan bahwa penarikan mata uang Euro dari peredaran akan memakan biaya yang sangat tinggi, yaitu sekitar 40-50% dari PDB negara kecil dan 20-25% dari PDB negara besar di tahun pertama. Pada akhirnya, marilah kita berharap keputusan Jerman adalah yang terbaik dan dapat meningkatkan kembali optimisme pasar di tengah paradoks perekonomian global.
Thursday, 18 August 2011
66 Tahun Indonesia Merdeka: Kemanakah arah perekonomian Indonesia?
Mungkin Indonesia bukan negara tertua di bumi ini, tetapi sudah jelas bahwa 66 tahun bukanlah usia sebuah negara muda. Di usia ke 66 tahun ini, mungkin kita dapat mengatakan bahwa kita belum cukup puas terhadap proses permbangunan ekonomi di Indonesia. Bila kita melihat sejarah, Korea Selatan berumur 3 tahun lebih muda dari Indonesia, dan mereka sudah jauh lebih sukses di bidang sosio-ekonomi dibandingkan kita. Oleh karena itu, di hari ulang tahun negara kita ini, ada baiknya sedikit merenungi kembali sejauh mana proses pembangunan ekonomi bangsa ini.
Jujur saja, bila kita mengikuti perspektif ekonom luar negeri, jelas banyak yang melihat bahwa Indonesia adalah negara yang potensial untuk menjadi salah satu raksasa ekonomi Asia di masa yang akan datang. Bila kita melihat statistik, memang jelas pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup stabil, pendapatan per kapita naik dari tahun ke tahun, dan inflasi bisa terbilang stabil, walaupun jelas kita tetap mengalami seasonal shock dari waktu ke waktu. Beberapa saat yang lalu saya melihat sebuah wawancara di CNN oleh Ramy Inocencio. Di wawancara tersebut ia mengatakan bahwa saat ini Indonesia adalah "jangkar" dari perekonomian ASEAN. Ini dicerminkan dari membaiknya sistem kebijakan moneter, semakin besarnya masyarakat menengah, dan potensi pasar yang sangat besar di Indonesia. Selain itu, banyak juga yang mengatakan pondasi ekonomi negara kita ini sangat kuat melihat dampak krisis global 2008 dan gejolak ekonomi yang terjadi di Eropa dan Amerika tidak terlalu signifikan di Indonesia. Singkatnya, pandangan optimis dari luar negeri seperti ini sangat kita perlukan untuk membangun sentimen positif.
Berbeda dengan sentimen positif ini, saya mencermati bahwa pandangan bangsa kita terhadap pembangunan ekonomi Indonesia tidak seoptimis itu. Di satu sisi, jelas yang lebih mengetahui keadaan negara kita ya kita sendiri, bukan orang asing. Contohnya, beberapa minggu yang lalu saya menerima sebuah artikel dari teman saya mengenai "pincang"-nya proses pembangunan negara kita. Menurut artikel tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia terlalu bergantung kepada sektor servis (seperti perbangkan) yang tidak terlalu banyak menyerap lapangan pekerjaan. Sedangkan pertumbuhan di sektor manufaktur dan agrikultur sedikit tersendat. Padahal, justru sektor ini lah yang lebih banyak menyumbangkan lapangan pekerjaan. Secara makro, memang pertumbuhan di sektor servis ini cukup baik, namun sayangnya hanya bisa dinikmati segelintir orang kaya/pemilik modal saja, sehingga cenderung mencerminkan meningkatnya kesenjangan pendapatan. Sebaliknya, jika pemerintah mampu menggenjot sektor manufaktur dan agrikultur, maka akan ada banyak lapangan pekerjaan baru tercipta yang dapat meningkatkan pendapatan per kapita penduduk, sehingga PDB Indonesia meningkat dan kesenjangan pendapatan berkurang.
Kalaupun benar adanya pengingkatan kesenjangan pendapatan seperti yang mereka katakan, ini belum berarti tidak ada harapan kedepannya untuk menunjang sektor manufaktur dan agrikultur. Insentif dari pemerintah tentu sangat berperan besar dalam menunjang kedua sektor ini. Insentif ini dapat berupa subsidi, keringanan pajak, ataupun bantuan-bantuan lainnya. Karena bila kita melihat sejarah ekonomi negara-negara industri baru seperti Korea Selatan dan Taiwan, keberhasilan mereka di bidang ekonomi tidak lain karena adanya pertumbuhan manufaktur yang kuat. Ini semua tidak mungkin berjalan efektif jika tidak ada dukungan kuat dari pemerintah.
Walaupun pemerintah memiliki peran signifikan, ini tidak berarti masyarakat Indonesia tidak dapat berperan dalam proses ini. Di saat seperti ini lah jiwa wirausaha perlu dikembangkan sehingga lebih banyak lapangan kerja baru akan tercipta. Beberapa penulis mengatakan bahwa korelasi antara pertumbuhan ekonomi dan kesenjangan pendapatan cenderung seperti ditunjukkan oleh model Kurva Kuznet. Dalam kurva ini, kesenjangan pendapatan ada pada axis-y dan pendapatan ada pada axis-x. Dari sini, kita bisa melihat bahwa di awal pertumbuhan ekonomi, kesenjangan pendapatan kecil karena hampir semua penduduk miskin. Di tengah-tengah pertumbuhan ekonomi, kesenjangan pendapatan akan meningkat karena sebagian penduduk menjadi lebih kaya seiring peningkatan taraf hidup masyarakat dan sebagian lagi masih akan tertinggal. Namun, di akhir dari proses pertumbuhan, konglomerat baru ini akan menciptakan lapangan kerja baru buat sebagian masyarakat yang pendapatannya masih rendah. Ini akan membuat golongan masyarakat menengah yang besar sehingga kesenjangan pendapatan kembali mengecil.
Memang, beberapa studi mengkritik relevansi dari model ini namun jelas ada juga yang mendukung di kasus-kasus tertentu. Tetapi optimisme tetap diperlukan agar negara kita dapat terus memandang maju ke depan. Singkatnya, pemerintah jelas masih memiliki peran paling penting dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat Indonesia. Namun bukan berarti kita rakyat Indonesia tidak bisa turut andil di dalamnya. Semoga dengan jiwa wirausaha, kita dapat berperan dalam proses pembangunan ekonomi di negara kita.
Dirgahayu 66 Tahun Indonesia
Diterbitkan di Harian Waspada, 25 Agustus 2011, halaman B8.
Arisyi Raz
MSc Development Economics and Policy Student at University of Manchester.
Jujur saja, bila kita mengikuti perspektif ekonom luar negeri, jelas banyak yang melihat bahwa Indonesia adalah negara yang potensial untuk menjadi salah satu raksasa ekonomi Asia di masa yang akan datang. Bila kita melihat statistik, memang jelas pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup stabil, pendapatan per kapita naik dari tahun ke tahun, dan inflasi bisa terbilang stabil, walaupun jelas kita tetap mengalami seasonal shock dari waktu ke waktu. Beberapa saat yang lalu saya melihat sebuah wawancara di CNN oleh Ramy Inocencio. Di wawancara tersebut ia mengatakan bahwa saat ini Indonesia adalah "jangkar" dari perekonomian ASEAN. Ini dicerminkan dari membaiknya sistem kebijakan moneter, semakin besarnya masyarakat menengah, dan potensi pasar yang sangat besar di Indonesia. Selain itu, banyak juga yang mengatakan pondasi ekonomi negara kita ini sangat kuat melihat dampak krisis global 2008 dan gejolak ekonomi yang terjadi di Eropa dan Amerika tidak terlalu signifikan di Indonesia. Singkatnya, pandangan optimis dari luar negeri seperti ini sangat kita perlukan untuk membangun sentimen positif.
Berbeda dengan sentimen positif ini, saya mencermati bahwa pandangan bangsa kita terhadap pembangunan ekonomi Indonesia tidak seoptimis itu. Di satu sisi, jelas yang lebih mengetahui keadaan negara kita ya kita sendiri, bukan orang asing. Contohnya, beberapa minggu yang lalu saya menerima sebuah artikel dari teman saya mengenai "pincang"-nya proses pembangunan negara kita. Menurut artikel tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia terlalu bergantung kepada sektor servis (seperti perbangkan) yang tidak terlalu banyak menyerap lapangan pekerjaan. Sedangkan pertumbuhan di sektor manufaktur dan agrikultur sedikit tersendat. Padahal, justru sektor ini lah yang lebih banyak menyumbangkan lapangan pekerjaan. Secara makro, memang pertumbuhan di sektor servis ini cukup baik, namun sayangnya hanya bisa dinikmati segelintir orang kaya/pemilik modal saja, sehingga cenderung mencerminkan meningkatnya kesenjangan pendapatan. Sebaliknya, jika pemerintah mampu menggenjot sektor manufaktur dan agrikultur, maka akan ada banyak lapangan pekerjaan baru tercipta yang dapat meningkatkan pendapatan per kapita penduduk, sehingga PDB Indonesia meningkat dan kesenjangan pendapatan berkurang.
Kalaupun benar adanya pengingkatan kesenjangan pendapatan seperti yang mereka katakan, ini belum berarti tidak ada harapan kedepannya untuk menunjang sektor manufaktur dan agrikultur. Insentif dari pemerintah tentu sangat berperan besar dalam menunjang kedua sektor ini. Insentif ini dapat berupa subsidi, keringanan pajak, ataupun bantuan-bantuan lainnya. Karena bila kita melihat sejarah ekonomi negara-negara industri baru seperti Korea Selatan dan Taiwan, keberhasilan mereka di bidang ekonomi tidak lain karena adanya pertumbuhan manufaktur yang kuat. Ini semua tidak mungkin berjalan efektif jika tidak ada dukungan kuat dari pemerintah.
Walaupun pemerintah memiliki peran signifikan, ini tidak berarti masyarakat Indonesia tidak dapat berperan dalam proses ini. Di saat seperti ini lah jiwa wirausaha perlu dikembangkan sehingga lebih banyak lapangan kerja baru akan tercipta. Beberapa penulis mengatakan bahwa korelasi antara pertumbuhan ekonomi dan kesenjangan pendapatan cenderung seperti ditunjukkan oleh model Kurva Kuznet. Dalam kurva ini, kesenjangan pendapatan ada pada axis-y dan pendapatan ada pada axis-x. Dari sini, kita bisa melihat bahwa di awal pertumbuhan ekonomi, kesenjangan pendapatan kecil karena hampir semua penduduk miskin. Di tengah-tengah pertumbuhan ekonomi, kesenjangan pendapatan akan meningkat karena sebagian penduduk menjadi lebih kaya seiring peningkatan taraf hidup masyarakat dan sebagian lagi masih akan tertinggal. Namun, di akhir dari proses pertumbuhan, konglomerat baru ini akan menciptakan lapangan kerja baru buat sebagian masyarakat yang pendapatannya masih rendah. Ini akan membuat golongan masyarakat menengah yang besar sehingga kesenjangan pendapatan kembali mengecil.
Kurva Cuznet
Memang, beberapa studi mengkritik relevansi dari model ini namun jelas ada juga yang mendukung di kasus-kasus tertentu. Tetapi optimisme tetap diperlukan agar negara kita dapat terus memandang maju ke depan. Singkatnya, pemerintah jelas masih memiliki peran paling penting dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat Indonesia. Namun bukan berarti kita rakyat Indonesia tidak bisa turut andil di dalamnya. Semoga dengan jiwa wirausaha, kita dapat berperan dalam proses pembangunan ekonomi di negara kita.
Dirgahayu 66 Tahun Indonesia
Diterbitkan di Harian Waspada, 25 Agustus 2011, halaman B8.
Arisyi Raz
MSc Development Economics and Policy Student at University of Manchester.
Friday, 22 July 2011
A reflection towards the first decade of AFTA: Lessons to learn
Mungkin sejak tahun 2003 banyak pengusaha di negeri ini yang menyadari bahwa persaingan perdagangan di Indonesia semakin ketat dengan meningkatnya tekanan dari luar negeri setelah AFTA menjadi operasional secara penuh pada tanggal 1 Januari 2003. Mungkin sebagian besar dari kita tahu, bahwa AFTA adalah sebuah pakta yang disetujui pada tahun 1993 dan menyetujui penghilangan "trade barrier" baik yang berbentuk tarif maupun quota di antara negara-negara ASEAN. Sudah lebih dari tujuh tahun pakta ini beroperasional secara penuh dan mungkin penilitian secara resmi diperlukan untuk melihat apakah pakta ini benar-benar membuahkan hasil yang signifikan atau tidak. Melihat sebelumnya banyak usaha aliansi ekonomi serupa yang gagal seperti ASEAN PTA dan APEC. Untuk mengukur ini, saya melakukan estimasi dengan menggunakan model ekonometrika yang diadopsi dari teori Gravitasi Isaac Newton. Sebagai sampel, saya menggunakan panel data set dari tahun 1988-2009 yang mencakup negara ASEAN 6 (Indonesia, Thailand, Singapura, Filipina, Malaysia dan Brunei) dan tiga negara Asia Timur lain yang sangat berpengaruh bagi perekonomian ASEAN: China, Jepang dan Korea Selatan.
Sebelum melihat dampak AFTA, ada baiknya utk melihat apa sajakah yang mempengaruhi perdagangan di ASEAN. Oleh karena itu, bagian pertama dari estimasi saya adalah untuk mencari faktor-faktor apa sajakah yang memiliki dampak signifikan terhadap perdagangan di ASEAN 6. Hasil dari estimasi tersebut menunjukkan bahwa PDB negara pengimpor berperan penting dalam perdangan di ASEAN. Lebih tepatnya, kenaikan PDB negara pengimpor sebanyak 1% meningkatkan ekspor negara pengekspor sekitar 2%. Intuisi nya jelas. Bila sebuah negara memiliki PDB yang besar, tentu mereka cenderung untuk membeli barang dari luar lebih banyak. Faktor lainnya adalah persamaan struktur permintaan kedua negara. Jika kedua negara memiliki struktur permintaan yang sama, maka kedua negara ini akan cenderung melakukan perdagangan lebih banyak. Sebagai contoh bila negara A dan B sama-sama mengkonsumsi benda X, tentu kedua negara cenderung untuk saling memperdagangkan benda ini. Hal lain yg mempengaruhi perdagangan ASEAN adalah perbedaan kemajuan teknologi. Rasional di balik hasil ini adalah, jika dua negara memilik tingkat kemajuan teknologi yang relatif sama, maka kedua negara tersebut dapat melakukan perdagangan yang bersifat komplementer. Contohnya, bila negara A dapat memproduksi mikro komponen untuk komputer dan negara B dapat memproduksi casing dan monitor, maka kedua negara itu dapat saling melengkapi kebutuhan mereka dengan berdagang. Bila teknologi di negara itu tidak sama, maka salah satu negara tidak mgkn dapat memproduksi barang tersebut sehingga perdagangan tidak terjadi. Kesimpulannya, estimasi saya menunjukkan bahwa tiga variabel inilah yang menjadi penentu perdagangan di ASEAN.
Selanjutnya, saya memasukkan Jepang, Cina dan Korea Selatan ke dalam data set saya dan melakukan estimasi ulang. Namun kali ini saya menambahkan model awal dengan beberapa variabel tambahan untuk menangkap dampak ASEAN secara global. Hasilnya memang menunjukkan bahwa AFTA telah meningkatkan perdagangan antar negara ASEAN secara signifikan. Ini membuktikan bahwa AFTA telah berhasil atau paling tidak sedang menuju pencapaian visi dan misi nya. Hal ini disebut juga dengan "trade creation" atau penciptaan perdagangan. Selain itu, estimasi tersebut juga menunjukkan bahwa "trade diversion" juga terjadi dengan bergesernya aktifikas ekspor negara-negara ASEAN yang menjadi lebih terfokus kepada sebatas negara ASEAN saja. Dengan kata lain, walaupun integrasi ekonomi negara-negara ASEAN semangkit erat lewat jalur perdagangan, hal ini terjadi dengan mengorbankan perdagangan-perdagangan dengan negara non-ASEAN.
Hasil lainnya yang mungkin menarik adalah semakin meningkatnya aktifitas perdagangan negara-negara ASEAN dengan Cina sejak tahun 2003. Pertumbuhan Cina yang sangat pesat telah membuat Cina berhasil mengambil alih secara perlahan pasar perdagangan ASEAN yang dipegang Jepang selama puluhan tahun. Estimasi saya menunjukkan bahwa sejak tahun 2003-2009, perdagangan Cina dengan ASEAN meningkat dgn signifikan sedangkan perdangan Jepang dengan menurun ASEAN setiap tahunnya.
Ya.. memang hasil riset saya dilihat dari sudut pandang ASEAN secara kolektif dan bukan Indonesia sebagai negara secara individu. Namun ini paling tidak memberikan sedikit insight bahwa meningkatnya perdagangan di ASEAN membuat negara Indonesia harus terus meningkatkan daya saing melalui kemajuan IPTEK. Dalam hal ini, peningkatan daya saing tidak bersifat statis, tetapi peningkatan yang dinamis seperti yang diungkapkan oleh Palma (2009) dalam bukunya yang berjudul Flying Geese and Wadding Ducks. Di buku ini diungkapkan bahwa peningkatan dinamis adalah peningkatan kemampuan teknologi dengan mengikuti perubahan permintaan pasar internasional dari waktu ke waktu. Bila ini kita lakukan, kita tidak akan kehilangan daya saing di masa yang akan datang.
Hal lain yang mgkn cukup penting adalah lahirnya Cina sebagai raksasa baru. Terlihat jelas bahwa Cina sedang mengambil alih pasar ASEAN (dan mungkin juga dunia). Hal ini bahkan terjadi jauh sebelum diresmikannya ASEAN China FTA (ACFTA) pada tahun 2010. Oleh karena itu, peningkatan kualitas teknologi di Indonesia harus diiringi dengan peningkatan efisiensi yang tinggi sehingga daya saing yang dicapai dapat dimaksimalkan. Walaupun Cina dikenal sbg negara penjual barang berkualitas rendah dengan harga murah, ini tidak boleh membuat kita lengah. 50 tahun yang lalu, Jepang adalah "Cina" nya dunia dan sekarang mereka termasuk salah satu perekonomian terbesar di dunia. Pada saat ini, Cina adalah perekonomian terbesar kedua di dunia. Sangatlah mungkin jika perkembangan ini membuat mereka menjadi perekonomian terbesar dan menggantikan AS.
Singkatnya, Indonesia masih bisa memanfaatkan banyak hal-hal positif di era globalisasi yang diiringi peningkatan integrasi ekonomi negara-negara dunia. Tidak ada gunanya pemikiran skeptis yang tidak membangun dengan mengatakan bahwa perdagangan bebas akan mengancam pengusaha lokal. Pemikiran seperti itu tidak akan membuat kita maju dan malah membuat kita tertinggal. Memang, mungkin itu ada benarnya, namun kita tidak dapat melawan arus pergerakan dunia global. Ini sudah terjadi dan tidak dapat dibalikkan. Karenanya, mari kita lihat fenomena ini dari sudut pandang yang positif. Bila anda seorang pengusaha, sebelum AFTA dan ACFTA pembeli anda hanyalah orang Indonesia. Namun sekarang seluruh ASEAN dan Cina dapat membeli barang anda tanpa rintangan antar negara. Yang diperlukan adalah ide yang orisinil, diikuti dengan kerja keras dan konsistensi. Tentu tantangan yang dihadapi tidak akan mudah. Namun saya yakin dengan usaha yang keras kita akan berhasil. Oleh karena itu, mari kita coba! Untuk Indonesia!
Sebelum melihat dampak AFTA, ada baiknya utk melihat apa sajakah yang mempengaruhi perdagangan di ASEAN. Oleh karena itu, bagian pertama dari estimasi saya adalah untuk mencari faktor-faktor apa sajakah yang memiliki dampak signifikan terhadap perdagangan di ASEAN 6. Hasil dari estimasi tersebut menunjukkan bahwa PDB negara pengimpor berperan penting dalam perdangan di ASEAN. Lebih tepatnya, kenaikan PDB negara pengimpor sebanyak 1% meningkatkan ekspor negara pengekspor sekitar 2%. Intuisi nya jelas. Bila sebuah negara memiliki PDB yang besar, tentu mereka cenderung untuk membeli barang dari luar lebih banyak. Faktor lainnya adalah persamaan struktur permintaan kedua negara. Jika kedua negara memiliki struktur permintaan yang sama, maka kedua negara ini akan cenderung melakukan perdagangan lebih banyak. Sebagai contoh bila negara A dan B sama-sama mengkonsumsi benda X, tentu kedua negara cenderung untuk saling memperdagangkan benda ini. Hal lain yg mempengaruhi perdagangan ASEAN adalah perbedaan kemajuan teknologi. Rasional di balik hasil ini adalah, jika dua negara memilik tingkat kemajuan teknologi yang relatif sama, maka kedua negara tersebut dapat melakukan perdagangan yang bersifat komplementer. Contohnya, bila negara A dapat memproduksi mikro komponen untuk komputer dan negara B dapat memproduksi casing dan monitor, maka kedua negara itu dapat saling melengkapi kebutuhan mereka dengan berdagang. Bila teknologi di negara itu tidak sama, maka salah satu negara tidak mgkn dapat memproduksi barang tersebut sehingga perdagangan tidak terjadi. Kesimpulannya, estimasi saya menunjukkan bahwa tiga variabel inilah yang menjadi penentu perdagangan di ASEAN.
Selanjutnya, saya memasukkan Jepang, Cina dan Korea Selatan ke dalam data set saya dan melakukan estimasi ulang. Namun kali ini saya menambahkan model awal dengan beberapa variabel tambahan untuk menangkap dampak ASEAN secara global. Hasilnya memang menunjukkan bahwa AFTA telah meningkatkan perdagangan antar negara ASEAN secara signifikan. Ini membuktikan bahwa AFTA telah berhasil atau paling tidak sedang menuju pencapaian visi dan misi nya. Hal ini disebut juga dengan "trade creation" atau penciptaan perdagangan. Selain itu, estimasi tersebut juga menunjukkan bahwa "trade diversion" juga terjadi dengan bergesernya aktifikas ekspor negara-negara ASEAN yang menjadi lebih terfokus kepada sebatas negara ASEAN saja. Dengan kata lain, walaupun integrasi ekonomi negara-negara ASEAN semangkit erat lewat jalur perdagangan, hal ini terjadi dengan mengorbankan perdagangan-perdagangan dengan negara non-ASEAN.
Hasil lainnya yang mungkin menarik adalah semakin meningkatnya aktifitas perdagangan negara-negara ASEAN dengan Cina sejak tahun 2003. Pertumbuhan Cina yang sangat pesat telah membuat Cina berhasil mengambil alih secara perlahan pasar perdagangan ASEAN yang dipegang Jepang selama puluhan tahun. Estimasi saya menunjukkan bahwa sejak tahun 2003-2009, perdagangan Cina dengan ASEAN meningkat dgn signifikan sedangkan perdangan Jepang dengan menurun ASEAN setiap tahunnya.
Ya.. memang hasil riset saya dilihat dari sudut pandang ASEAN secara kolektif dan bukan Indonesia sebagai negara secara individu. Namun ini paling tidak memberikan sedikit insight bahwa meningkatnya perdagangan di ASEAN membuat negara Indonesia harus terus meningkatkan daya saing melalui kemajuan IPTEK. Dalam hal ini, peningkatan daya saing tidak bersifat statis, tetapi peningkatan yang dinamis seperti yang diungkapkan oleh Palma (2009) dalam bukunya yang berjudul Flying Geese and Wadding Ducks. Di buku ini diungkapkan bahwa peningkatan dinamis adalah peningkatan kemampuan teknologi dengan mengikuti perubahan permintaan pasar internasional dari waktu ke waktu. Bila ini kita lakukan, kita tidak akan kehilangan daya saing di masa yang akan datang.
Hal lain yang mgkn cukup penting adalah lahirnya Cina sebagai raksasa baru. Terlihat jelas bahwa Cina sedang mengambil alih pasar ASEAN (dan mungkin juga dunia). Hal ini bahkan terjadi jauh sebelum diresmikannya ASEAN China FTA (ACFTA) pada tahun 2010. Oleh karena itu, peningkatan kualitas teknologi di Indonesia harus diiringi dengan peningkatan efisiensi yang tinggi sehingga daya saing yang dicapai dapat dimaksimalkan. Walaupun Cina dikenal sbg negara penjual barang berkualitas rendah dengan harga murah, ini tidak boleh membuat kita lengah. 50 tahun yang lalu, Jepang adalah "Cina" nya dunia dan sekarang mereka termasuk salah satu perekonomian terbesar di dunia. Pada saat ini, Cina adalah perekonomian terbesar kedua di dunia. Sangatlah mungkin jika perkembangan ini membuat mereka menjadi perekonomian terbesar dan menggantikan AS.
Singkatnya, Indonesia masih bisa memanfaatkan banyak hal-hal positif di era globalisasi yang diiringi peningkatan integrasi ekonomi negara-negara dunia. Tidak ada gunanya pemikiran skeptis yang tidak membangun dengan mengatakan bahwa perdagangan bebas akan mengancam pengusaha lokal. Pemikiran seperti itu tidak akan membuat kita maju dan malah membuat kita tertinggal. Memang, mungkin itu ada benarnya, namun kita tidak dapat melawan arus pergerakan dunia global. Ini sudah terjadi dan tidak dapat dibalikkan. Karenanya, mari kita lihat fenomena ini dari sudut pandang yang positif. Bila anda seorang pengusaha, sebelum AFTA dan ACFTA pembeli anda hanyalah orang Indonesia. Namun sekarang seluruh ASEAN dan Cina dapat membeli barang anda tanpa rintangan antar negara. Yang diperlukan adalah ide yang orisinil, diikuti dengan kerja keras dan konsistensi. Tentu tantangan yang dihadapi tidak akan mudah. Namun saya yakin dengan usaha yang keras kita akan berhasil. Oleh karena itu, mari kita coba! Untuk Indonesia!
Diterbitkan di Harian Waspada, 30 Juli 2011, halaman B7.
Arisyi Raz
MSc Development Economics and Policy Student at University of Manchester.
Friday, 15 April 2011
Book Review: "The Undercover Economist" by Tim Harford
Sebelumnya saya ingin meminta maaf karena sudah lama membuat blog ini terbengkalai sehubungan dengan kesibukan saya mengerjakan tugas kuliah (walaupun sebenarnya alasan ini terkesan di justifikasi secara subjektif untuk mempertahankan komitmen saya dalam menulis. hahaha..)
Pada kesempatan ini, setelah rehat selama hampir sebulan, saya ingin me review sebuah buku yang cukup menarik untuk dibaca. Seperti yang sudah anda baca pada judul tulisan saya, buku ini berjudul "The Undercover Economist" yang ditulis oleh seorang jurnalis dan ekonom tamatan Oxford University. Dia pernah menjadi kolumnis dan menulis editorial di Financial Times, sebuah koran bisnis yang sangat terkenal di Inggris. Ia juga pernah menjadi presenter Trust Me, I'm an Economist di stasiun televisi Inggris, BBC2.
Cukup sudah cerita singkat tentang sang penulis. Seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, buku ini sangat menarik untuk dibaca, baik bagi anda yang berada di bidang bisnis, ekonomi, atau keuangan, maupun bagi anda yang tidak mendalami bidang-bidang tersebut. Singkatnya, buku ini dapat menjadi bacaan umum yang dapat diterima hampir semua kalangan masyarakat. Saya sendiri membaca buku ini sekitar 2 tahun lalu ketika saya berada di tahun ketiga bangku kuliah. Dan pada saat itu, buku ini menjadi salah satu bacaan favorit saya yang banyak menceritakan hal-hal yang tidak kita pikirkan sebelumnya. Singkatnya, buku ini menceritakan tentang cerita-cerita terselubung dibalik pengaruh dan kekuatan yang menggerakkan kegiatan sehari-hari kita. Biasanya hal-hal tersebut sangat remeh ataupun tidak kita pikirkan. Namun dengan membaca buku ini, pikiran kita disuguhkan dengan rasional ekonomi yang ada dibalik banyak kejadian yang terjadi di sekitar kita.
Sebagai contoh, buku ini menceritakan kenapa warung kopi seperti Starbucks menjual kopi dengan margin harga yang sangat tinggi, terutama di kawasan sibuk di kota-kota besar seperti Tokyo, New York, ataupun London. Terkadang, harga jual secangkir kopi bisa sepuluh kali lipat harga yang diperlukan untuk membuat kopi ini. Kita sebagai konsumen dan orang awam tentu sering merasa dirugikan akan hal ini dan terus berfikiran bahwa warung kopi berusaha mengambil untung sebanyak mungkin. Ternyata warung kopi yang kita anggap memeras kita juga diperas oleh para pemilik tanah yang memberikan rental toko dengan harga selangit, mengingat warung ini berada di kalangan sibuk/bisnis. Sehingga, dalam hal ini landlord lah yang berada di puncak rantai makanan dan para penjual masih berada di tengah-tengah.
Contoh di atas adalah salah satu dari banyak fenomena ekonomi yang membuka mata kita yang dimuat di buku ini. Walaupun sang penulis menulis buku ini dengan bahasa yang mudah dimengerti, ia tetap menyuguhkan teori-teori ekonomi seperti game theory, economics of scale, ataupun theory of comparative advantage untuk mendukung setiap argumennya. Hasilnya, kita sebagai pembaca bisa lebih memahami hubungan antara teori dan aplikasinya di kehidupan nyata. Terutama bagi anda yang sedang mempelajari bisnis/ekonomi/keuangan, anda akan dapat langsung mengasah logika anda dengan menganalisa tulisan yang anda baca di buku ini.
Walaupun buku ini diterbitkan pada tahun 2006, saya sangat yakin bahwa buku ini masih sangat relevan untuk dibaca sekarang. Saya masih banyak melihat sampul buku ini dipasang di etalase bagian ekonomi di banyak toko buku, baik lokal maupun luar negeri. Oleh karena itu, dengan membaca buku ini, wawasan anda dapat terbuka dan anda akan menjadi lebih peka terhadap hal-hal disekitar anda yang berhubungan dengan aktifitas ekonomi. Selain itu, anda juga akan menyadari bahwa fenomena ekonomi ternyata lebih dekat dengan anda dari yang selama ini anda bayangkan. Tidak heran, jika pada akhirnya buku ini menjadi The Sunday Times Bestseller. Sang penulis juga sudah menulis beberapa buku lainnya yang tidak kalah menyenangkan untuk dibaca seperti The Logic of Life.
Friday, 18 March 2011
Japanese Earthquake and Tsunami 2011: Part II
Pagi ini, di perjalanan saya menuju kampus, saya menerawang melihat langit yang sedikit mendung dan pohon2 yang belum menumbuhkan daunnya. Lantas saya berfikir "Hmmm.. Musim semi belum datang di Manchester." Dan ini mengingatkan saya bahwa di saat-saat seperti ini adalah waktu yang sangat pas untuk berada di Jepang. Bunga-bunga mulai bermekaran, taman-taman mulai hijau kembali, dan dalam dua minggu Sakura akan mekar. Pastinya ini menjadi saat paling indah di Jepang. Melihat orang-orang bepergian ke taman (hanami) sambil menikmati bento (lunch box) dan ocha (teh Jepang) yang hangat di bawah sinar matahari yang cerah. Semua orang bergembira.. bahkan bagi orang yang hanya lewat dan melihat pemandangan itu, dia akan merasakan kebahagiaan yang terpancarkan.
Inilah Jepang yang saya kenal... Jepang yang saya cintai..
Tetapi tahun ini mungkin sedikit berbeda di Jepang.. Gempa yang terjadi minggu lalu mungkin telah menyerap sebahagian besar kebahagiaan yang ada di Jepang. Ini jelas masa yang buruk bagi negeri Sakura itu.. Jepang adalah negara yang fragile dari sisi perekonomian. Mereka adalah raksasa yang pincang, dan gempa kemarin telah membuat raksasa itu terjatuh. Saya sebagai murid yang mempelajari ekonomi juga sedikit pesimis melihat kejadian ini. Namun, ketika pagi tadi saya membaca artikel The Economist yang berjudul The Cost of Calamity, harapan saya kembali bangkit.
Di artikel tersebut dikatakan bahwa kerugian tsunami kali ini bisa lebih dari $200 milyar. Pabrik-pabrik banyak yang tutup, tidak hanya di daerah gempa tetapi juga di daerah lainnya karena jalur distribusi terganggu. Gempa ini juga akan menjatuhkan PDB jepang pada tahun ini. Karena hancurnya sarana transportasi dan utility, ini akan mengganggu arus laju barang dan transaksi yang dapat menurunkan PDB suatu negara. Walaupun di short term ini mengganggu perekonomian Jepang, menurut artikel tersebut, perekonomian Jepang dapat recover dengan cepat jika merujuk kepada kasus gempa bumi Kobe. Pada saat itu dalam setahun tingkat produksi setahun setelah gempa telah mencapai 98% dari tingkat sebelum gempa. Walaupun saat ini mungkin keadaan dan magnitude nya berbeda, tetapi ada harapan bahwa perekonomian Jepang dapat kembali normal dalam waktu beberapa tahun ke depan. Di artikel itu juga disebutkan bahwa proses recovery akan berjalan jauh lebih mudah daripada pembangunan awal. Karena proses recovery dapat dilakukan dengan melakukan track seperti sebelum bencana terjadi. Sehingga hanya tinggal mengikuti fitur awal yang sudah digunakan. Sedangkan pembangunan dari awal jauh lebih rumit dan costly. Dalam hal ini, Jepang tentu sudah memiliki kebijakan yang terarah dan teratur sehingga proses pembangunan kembali tidak akan terlalu sulit.
Jepang mungkin memang sedang mengalami masa gelapnya. Tapi ingat.. 日本って侍の国だよ! (Jepang adalah negeri para samurai!) Walaupun sekarang samurai sudah tidak ada lagi, saya masih yakin bahwa orang Jepang masih memiliki jiwa samurai. Baru-baru ini saya mendapat berita dari seorang murid Indonesia yang sedang belajar di Jepang. Di tengah masa suram seperti ini, media Jepang tidak memutarkan lagu-lagu galau dan menunjukkan tangisan-tangisan sendu. Yang mereka tunjukkan adalah pesan agar warga tetap waspada, permintaan maaf dari pemerintah karena ada gangguan listrik, tips-tips menanggulangi bencana, potret warga bahu-membahu membantu korban gempa, dan pesan bahwa Jepang akan bangkit kembali. Ini jelas bukan hal yang kita temukan ketika gempa di Aceh dan Yogyakarta terjadi..
Kalau anda pernah tinggal di Jepang, mungkin anda akan sangat familiar (dan mgkn muak) dengan kata Ganbaru (ガンバル). Tidak ada kata yang pas dalam bahasa Indonesia untuk menjelaskan arti sebenarnya kata ini. Tetapi secara komprehensif, kata ini berarti semangat atau pantang menyerah. Anda yang pernah tinggal di Jepang mungkin selalu mendengar kata-kata ini. Ketika mau ujian, ketika mau melakukan sebuah pertunjukan ataupun hal-hal lainnya. Kita sebagai orang asing mungkin tidak benar-benar mengerti apa fungsi dari kata ini. Tetapi membaca pesan dari murid Indonesia tersebut, saya baru menyadari apa makna dari kata tersebut. Saat ini kata itu sedang dikumandangkan di mana-mana untuk menyebarkan virus semangat ke orang-orang disekitarnya. Kata itu sendiri merupakan sebuah mantra yang memberikan kekuatan. Inilah Jepang yang saya tahu.. mereka adalah negeri yang pantang menyerah.
Kalau kita melihat kembali sejarah.. Jepanglah negara yang berani berperang melawan Rusia di zaman post-imperial. Jepang jugalah yang menyerang Pearl Harbour dan mendapatkan dua serangan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Dan negara yang sama juga mengalami gempa bumi dahsyat di Kobe pada tahun 1995 kemarin. Dan mereka masih tetap bisa bangkit.. Menjadi pemimpin dari The Flying Geese Asia, menjadi perekonomian kedua terbesar di dunia, dan menjadi pelindung Asia. Saya yakin, kali ini mereka akan bangkit sekali lagi. Di tengah krisis socio-economics seperti sekarang ini, di mana semakin banyaknya フリーター (freeter) di mana semakin menuanya populasi Jepang.. Saya yakin Jepang akan bangkit kembali sebagai raksasa Asia.. Karena Jepang adalah negerinya samurai!
Maaf kalau tulisan saya sedikit melankolis.. Ini memang blog yang termakan emosi :(
Inilah Jepang yang saya kenal... Jepang yang saya cintai..
Tetapi tahun ini mungkin sedikit berbeda di Jepang.. Gempa yang terjadi minggu lalu mungkin telah menyerap sebahagian besar kebahagiaan yang ada di Jepang. Ini jelas masa yang buruk bagi negeri Sakura itu.. Jepang adalah negara yang fragile dari sisi perekonomian. Mereka adalah raksasa yang pincang, dan gempa kemarin telah membuat raksasa itu terjatuh. Saya sebagai murid yang mempelajari ekonomi juga sedikit pesimis melihat kejadian ini. Namun, ketika pagi tadi saya membaca artikel The Economist yang berjudul The Cost of Calamity, harapan saya kembali bangkit.
Di artikel tersebut dikatakan bahwa kerugian tsunami kali ini bisa lebih dari $200 milyar. Pabrik-pabrik banyak yang tutup, tidak hanya di daerah gempa tetapi juga di daerah lainnya karena jalur distribusi terganggu. Gempa ini juga akan menjatuhkan PDB jepang pada tahun ini. Karena hancurnya sarana transportasi dan utility, ini akan mengganggu arus laju barang dan transaksi yang dapat menurunkan PDB suatu negara. Walaupun di short term ini mengganggu perekonomian Jepang, menurut artikel tersebut, perekonomian Jepang dapat recover dengan cepat jika merujuk kepada kasus gempa bumi Kobe. Pada saat itu dalam setahun tingkat produksi setahun setelah gempa telah mencapai 98% dari tingkat sebelum gempa. Walaupun saat ini mungkin keadaan dan magnitude nya berbeda, tetapi ada harapan bahwa perekonomian Jepang dapat kembali normal dalam waktu beberapa tahun ke depan. Di artikel itu juga disebutkan bahwa proses recovery akan berjalan jauh lebih mudah daripada pembangunan awal. Karena proses recovery dapat dilakukan dengan melakukan track seperti sebelum bencana terjadi. Sehingga hanya tinggal mengikuti fitur awal yang sudah digunakan. Sedangkan pembangunan dari awal jauh lebih rumit dan costly. Dalam hal ini, Jepang tentu sudah memiliki kebijakan yang terarah dan teratur sehingga proses pembangunan kembali tidak akan terlalu sulit.
Jepang mungkin memang sedang mengalami masa gelapnya. Tapi ingat.. 日本って侍の国だよ! (Jepang adalah negeri para samurai!) Walaupun sekarang samurai sudah tidak ada lagi, saya masih yakin bahwa orang Jepang masih memiliki jiwa samurai. Baru-baru ini saya mendapat berita dari seorang murid Indonesia yang sedang belajar di Jepang. Di tengah masa suram seperti ini, media Jepang tidak memutarkan lagu-lagu galau dan menunjukkan tangisan-tangisan sendu. Yang mereka tunjukkan adalah pesan agar warga tetap waspada, permintaan maaf dari pemerintah karena ada gangguan listrik, tips-tips menanggulangi bencana, potret warga bahu-membahu membantu korban gempa, dan pesan bahwa Jepang akan bangkit kembali. Ini jelas bukan hal yang kita temukan ketika gempa di Aceh dan Yogyakarta terjadi..
Kalau anda pernah tinggal di Jepang, mungkin anda akan sangat familiar (dan mgkn muak) dengan kata Ganbaru (ガンバル). Tidak ada kata yang pas dalam bahasa Indonesia untuk menjelaskan arti sebenarnya kata ini. Tetapi secara komprehensif, kata ini berarti semangat atau pantang menyerah. Anda yang pernah tinggal di Jepang mungkin selalu mendengar kata-kata ini. Ketika mau ujian, ketika mau melakukan sebuah pertunjukan ataupun hal-hal lainnya. Kita sebagai orang asing mungkin tidak benar-benar mengerti apa fungsi dari kata ini. Tetapi membaca pesan dari murid Indonesia tersebut, saya baru menyadari apa makna dari kata tersebut. Saat ini kata itu sedang dikumandangkan di mana-mana untuk menyebarkan virus semangat ke orang-orang disekitarnya. Kata itu sendiri merupakan sebuah mantra yang memberikan kekuatan. Inilah Jepang yang saya tahu.. mereka adalah negeri yang pantang menyerah.
Kalau kita melihat kembali sejarah.. Jepanglah negara yang berani berperang melawan Rusia di zaman post-imperial. Jepang jugalah yang menyerang Pearl Harbour dan mendapatkan dua serangan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Dan negara yang sama juga mengalami gempa bumi dahsyat di Kobe pada tahun 1995 kemarin. Dan mereka masih tetap bisa bangkit.. Menjadi pemimpin dari The Flying Geese Asia, menjadi perekonomian kedua terbesar di dunia, dan menjadi pelindung Asia. Saya yakin, kali ini mereka akan bangkit sekali lagi. Di tengah krisis socio-economics seperti sekarang ini, di mana semakin banyaknya フリーター (freeter) di mana semakin menuanya populasi Jepang.. Saya yakin Jepang akan bangkit kembali sebagai raksasa Asia.. Karena Jepang adalah negerinya samurai!
Maaf kalau tulisan saya sedikit melankolis.. Ini memang blog yang termakan emosi :(
Diterbitkan di Harian Waspada, 24 Maret 2011, halaman B12.
Arisyi Raz
MSc Development Economics and Policy Student at University of Manchester.
Monday, 14 March 2011
Japanese Earthquake and Tsunami 2011: Part I
Pagi hari pada Jumat, 11 Maret 2011 kemarin saya mendapat banyak sms dan BBM (Blackberry Messengerä) mengenai gempa 8.8 SR yang mengguncang beberapa wilayah di Jepang. Membaca pesan elektronik tersebut saya langsung membuka komputer dan melihat berita di Metro TV, BBC News, dan CNN. Saya melihat banyak cuplikan mengenaskan dari mulai kapal yang terbawa ombak hingga ke kota, whirlpool, hingga arus tsunami yang menghancukan Sendai. Berita ini sangat menyedihkan saya mengingat saya pernah tinggal selama empat tahun di Jepang dan jatuh cinta pada negara tersebut. Seakan-akan itu belum cukup, hari ini dan kemarin terjadi ledakan pada reaktor nuklir di Fukushima. Walaupun belakangan dikonfirmasi yang meledak bukanlah inti reaktor nuklir tersebut, tetapi ledakan reaktor itu sudah melukai banyak orang dan membuat sekitar 20 orang terkena radiasi. Para ahli nuklir cukup optimis bahwa kebocoran ini tidak akan separah kebocoran reaktor Chernobyl di Rusia pada tahun 1986 karena pengamanan Jepang yang lebih baik. Namun tidak tertutup kemungkinan reaktor ini bisa benar-benar meledak. Hingga saat ini korban gempa sudah mencapai 2.000 orang lebih dan diperkirakan total korban di Miyagi sendiri saja bisa mencapai lebih dari 10.000 orang. Dari segi kekuatan, gempa kali ini adalah yang kelima terkuat sejak 1900. PM Jepang, Naoto Kan, menyampaikan bahwa bencana ini adalah yang terburuk sejak PD II.
Apakah dampak kejadian ini dari segi ekonomi? Tentu saja ini menjadi tambahan berita buruk lagi. Banyak bisnis yang tutup setelah kejadian tersebut. Sarana transportasi juga banyak yang rusak, padahal Jepang terkenal dengan sarana transportasinya yang sangat modern dan canggih. Selain itu, banyak listrik, air, dan gas yang mati. Kerusakan pembangkit listrik di Fukushima sendiri menyebabkan pemadaman listrik bergilir di sebagian besar wilayah Jepang. Putusnya sarana ini tentu bisa memperpuruk keadaan bisnis dan ekonomi di Jepang lebih jauh. Menurut The Economist, kerugian gempa kali ini bisa melebihi kerugian gempa Kobe sebesar $120 milyar (¥10 bilyar). Ini sangat merugikan Jepang, mengingat perekonomian sejak 20 tahun terakhir bisa dibilang mandeg. Justru tahun ini di mana perekonomian mulai menunjukkan pemulihan, tsunami dan gempa ganas melanda dan meluluhlantakkan Jepang.
Bila kita lihat dari perspektif pasar, indek Nikkei turun 6% pada sesi pertama pada hari Senin. Beberapa saham yang berinvestasi di bidang pembangkit listrik tenaga nuklir seperti Tokyo Electric Power Company turun hingga 24% (Menurut data The Economist). Bahkan ada saham-saham yang tidak diperjual-belikan karena turun sangat jauh. Dari pasar mata uang, mata uang Yen justru menguat setelah gempa. Tetapi hal ini justru memperburuk keadaan karena perusahaan Jepang akan lebih sulit untuk melakukan ekspor. Padahal selama ini banyak pasar ekspor Jepang sudah diambil oleh Cina. Banyak pengamat mengatakan pembangunan kembali Jepang akan memakan waktu yang cukup lama. Mengingat perekonomian Jepang sudah tersendat-sendat sejak dua dekade terakhir. Tetapi banyak juga ekonom yang optimis bahwa perekonomian Jepang dapat pulih kembali pada akhir tahun ini.
Dampak gempa ini juga mempengaruhi perekonomian internasional. Indeks pasar di Hong Kong, Amerika dan Inggris juga mengalami sentimen negatif menanggapi bencana ini. Bahkan harga minyak yang sudah beberapa saat terakhir di atas $100 turun menjadi di bawah $100 untuk pertama kalinya sejak beberapa bulan terakhir. Penurunan ini akibat dari turunnya permintaan minyak dari Jepang. Walaupun pasar saham IHSG masih bisa bertahan pada hari Senin, tetapi bencana ini bisa mengurangi pendapatan ekspor di Indonesia. Dengan kata lain, gempa ini menghasilkan short-term shock di perekonomian internasional.
Jepang memang pernah menjadi raksasa di Asia dalam bidang ekonomi. Negara matahari terbit ini dikenal sebagai pemimpin the flying geese di Asia. Tetapi raksasa sekalipun akan mengalami masa berat suatu saat. Kita semua diajarkan di bangku sekolah bahwa Jepang adalah negara penjajah yang jauh lebih kejam dari Belanda. Tetapi itu adalah masa lalu yang tidak perlu kita ungkit-ungkit lagi. Kita tidak akan bisa menikmati pertumbuhan perekonomian seperti sekarang tanpa Jepang. Bahkan saat ini, Jepang merupakan salah satu negara tujuan ekspor terbesar di Indonesia. Perusahaan Jepang juga banyak memberikan investasi di bidang infrastruktur dll. yang tentunya berguna bagi pembangunan negara kita. Bahkan UKM sekalipun juga banyak menggantungkan usahanya kepada pembeli dari Jepang. Jepang jugalah negara donatur terbesar saat kita dilanda Tsunami Aceh pada tahun 2004 kemarin. Oleh karena itu, inilah saatnya kita sesama manusia untuk saling membantu satu sama lain. Mari kita tunjukkan rasa solidaritas kita dan memberitahukan pada dunia bahwa Indonesia peduli!
Link untuk memberikan donasi:
Palang Merah Indonesia http://www.pmi.or.id/ina/news/?act=detail&p_id=696
Bantuan lewat Google.com http://www.google.com/crisisresponse/japanquake2011.html
dan mungkin masih banyak lagi sarana-sarana untuk memberikan donasi yang bisa anda dapatkan.
Diterbitkan di Harian Waspada, 24 Maret 2011, halaman B12.
Arisyi Raz
MSc Development Economics and Policy Student at University of Manchester.
Subscribe to:
Posts (Atom)

