Tuesday, 8 February 2011

Introduction to "Economics for All"

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, pengertian dari kata “ekonomi” masih cukup absurd. Banyak masyarakat awam menginterpretasikan ilmu ekonomi sebagai ilmu yang digunakan dalam bisnis untuk mencari keuntungan sebanyak-banyaknya. Persepsi ini mungkin muncul karena sarjana di bidang bisnis, marketing, akuntansi dsb. di Indonesia digeneralisasikan dengan gelar Sarjana Ekonomi. Dalam hal tertentu, ini memang ada benarnya. Tetapi pengertian seperti ini membuat seolah-olah pengertian ekonomi menjadi sangat sempit. Mungkin ilmu seperti ini lebih cocok jika diasosiasikan dengan salah satu sub ilmu dari ekonomi: keuangan. Walaupun pada akhirnya ilmu bisnis dan ekonomi saling berkaitan dan knowledge spillover antara kedua ilmu tidak dapat dielakkan. Tetapi pada akhirnya, paradigma yang salah ini dapat menghasilkan mispresepsi di masyarakat. Oleh karena itu, blog ini saya buat agar bisa menjadi sebuah retorika untuk meluruskan kembali paradigma tersebut. Agar kita bisa mengenal lebih baik apa pengertian sebenarnya dari kata “ekonomi”.

Orang yang sudah sering bergelut di bidang ekonomi sering mengasosiasikan ekonomi dengan terminologi seperti kebijakan fiscal (seperti perpajakan) dan moneter (seperti inflasi) ataupun ekonomi pembangunan. Memang, sebagian besar kegunaan ilmu ekonomi adalah sebagai alat untuk mengetahui efektifitas dari sebuah kebijakan pemerintah. Biasanya ekonomi juga dibarengi oleh ekonometri sebagai “ilmu pengukur” keabsahan teori dan kebijakan ekonomi. Dalam ekonometri, kebijakan ini akan diukur lewat berbagai jenis regresi seperti OLS (Ordinary Least Square) atau ARCH (Autoregressive Conditional Heteroscedasticity) dsb. Tentu saja, istilah-istilah seperti ini akan membuat anda para pembaca alergi dan saya tidak akan membahas hal ini lebih lanjut.

Oleh karena itu, saya akan mencoba mengurangi sebisanya istilah teknikal dan akan melakukan pendekatan yang lebih friendly untuk dibaca. Pasti kita akan membahas kebijakan-kebijakan pemerintah dari berbagai prespektif. Tetapi seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, ekonomi bukan hanya tentang makroekonomi (ekonomi dari sudut pandang negara secara agregrat), tetapi juga tentang mikroekonomi (ekonomi dari sudut pandang individu atau rumah tangga).

Tanpa kita sadari, sebenarnya ekonomi lebih dekat dari yang kita duga. Mikroekonomi itu sendiri tidak hanya sebatas teori permainan, monopoli atau kompetisi, tetapi juga hal-hal yang lebih general seperti kenapa anda lebih memilih untuk belanja di toko yang lebih mahal atau kenapa beberapa orang lebih suka hidup sederhana daripada hidup mewah. Hal-hal umum seperti ini sebenarnya juga merupakan cakupan dari ilmu ekonomi. Saya sendiri suka menyebutnya sebagai economics of life. Dan yang lebih mengejutkannya, terkadang hal-hal yang terlihat sederhana seperti ini diturunkan dari rumusan matematika yang sangat sulit seperti multivariate calculus ataupun matriks. Kita akan membahas lebih jauh hal ini di masa yang akan datang.. dan dengan bahasa yang mudah dimengerti tentunya!

Saya terinspirasi untuk membuat blog ini setelah saya berdiskusi dengan adik saya. Kami ngobrol tentang bagaimana orang sering menganggap bahwa ekonomi adalah ilmu yang mengutamakan keuntungan kelompok tertentu (dalam hal ini, perusahaan tertentu untuk memaksimalkan bisnis). Justru sebaliknya, ekonomi yang sebenarnya adalah ilmu untuk memakmurkan masyarakat dan memaksimalkan kesejahteraan bersama yang biasa disebut pareto optimal oleh para ekonom. Walaupun pada akhirnya, ilmu ini bisa juga digunakan untuk mensejahteraan kelompok tertentu saja (seperti ekonom yang kerja di bank :P  no offense ya!). Sebagai contoh, dokter, pengacara, akuntan membuat sertifikasi profesi untuk pekerjaan mereka agar membuat pasar yang monopolistik. Dengan terciptanya pasar monopolistik ini, mereka telah memperkecil tingkat persaingan di antara mereka karena susahnya untuk mendapatkan sertifikasi tersebut. Karena untuk mendapatkan profesi tersebut sulit, maka jumlah mereka akan sedikit dan permintaan akan mereka banyak. Sehingga, gaji mereka akan naik agar pasar tetap berada di ekuilibrium. Ekonom telah menganalisa hal ini, tetapi “bodoh” nya mereka tidak mengaplikasikan ini untuk mereka sendiri. Kita tidak butuh sertifikat profesi untuk menjadi ekonom. Siapa saja bisa menjadi ekonom selama mereka mengerti teori-teori ekonomi. Pada akhirnya akuntan dan pengacara menjadi kaya dan ekonom tetap …. (ah..! anda tau sendiri kata yang ingin saya tulis). Intinya, ini adalah sebagai bukti bahwa ekonomi adalah ilmu yang ingin memakmurkan bersama. Sehingga welfare atau tingkat kemakmuran di suatu pasar atau negara dapat dimaksimalkan dan market failure atau kegagalan pasar dapat diminimalkan. (bacaan lebih lanjut: Microeconomics oleh Perloff keluaran Pearson)

Singkatnya, saya akan berusaha agar blog ini tidak menjadi jenis blog yang akan membuat kening berkerinyit ketika dibaca. Sebaliknya, saya ingin blog ini menemani pembaca di sore hari yang sejuk bersama secangkir teh chamomile hangat dan cupcake jeruk yang segar. Selain itu, blog ini juga bisa menjadi forum untuk bertukar pikiran, saran, kritik, dan pendapat. Oleh karena itu, saya akan sangat menerima masukan dari rekan-rekan sekalian. Dengan dilakukannya sharing, kita akan menghasilkan positive externalities (kelebihan seseorang akan menguntungkan orang lain tanpa mengurangi kelebihan orang pertama). Jika ini diteruskan, maka akan menghasilkan multiplier effect (efek yang berlipat ganda) dan membuat sebuah knowledge network yang mungkin akan berguna bagi kita semua.

Oleh karena itu, saya men tag rekan-rekan yang sedang/akan melakukan studi S2 di bidang ekonomi atau pembangunan dan juga rekan-rekan yang sedang bekerja di bidang bisnis, akademik, perbankan, ataupun pemerintahan. Anda juga bisa men tag teman-teman anda yang lain untuk mengembangkan diskusi kita.

Semoga artikel ini menarik dan berguna bagi kita semua.

Arisyi Raz
MSc Development Economics and Policy Student at University of Manchester

No comments:

Post a Comment