Tuesday, 8 February 2011

Economic Assumptions

Sebelum memulai artikel kedua saya, saya ingin mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya kepada teman-teman semua atas respon positif, komentar, dan dukungannya di blog pertama saya. Semoga saya bisa terus menulis secara reguler dan menjaga konsistensi ini. (Sebenarnya saran menulis ini saya dapat dari Prof. “Engkong” Mike Leu.. Bagi anda yang kuliah di APU jurusan Bisnis Internasional pasti tau siapa dia).

Baiklah.. dalam kesempatan ini, saya ingin memperkenalkan kepada anda mengenai konsep asumsi ekonomi. Mungkin topik ini sedikit membosankan, tetapi diperlukan dalam pembahsan-pembahasan kita berikutnya yang lebih menarik. Karena ekonomi merupakan bagian dari ilmu sosial dan interaksi sosial manusia umumnya merupakan sebuah hubungan yang rumit, maka teori ekonomi (yang biasanya mencoba menerjemahkan cara berfikir manusia ke dalam rumus matematika) umumnya juga bisa menjadi rumit. Oleh karena itu, banyak ekonom menggunakan asumsi-asumsi yang kuat untuk menyederhanakan keadaan dan agar lebih mudah dimengerti oleh masyarakat luas. Kemudian, asumsi-asumsi tadi dapat dirileksasikan untuk mendekatkan teori ekonomi tersebut ke keadaan nyata agar meningkatkan keakurasiannya.

Beberapa contoh asumsi yang sering digunakan adalah bahwa setiap manusia bersikap rasional. Artinya, di dalam teori ekonomi, setiap orang dianggap mengerti keadaan pasar dan akan memberikan respon yang selayaknya terhadap perubahan pasar. Tentu saja asumsi “rasionalitas” ini tidak rasional. Karena tidak semua orang mengerti keadaan pasar sehingga terkadang melakukan respon yang salah. Contoh lainnya seperti yang ada di dalam teori perdagangan internasional yang disebut comparative advantage. Di dalam teori ini diasumsikan bahwa di dunia ini cuma ada dua negara di dunia ini dan hanya ada dua produk yang dapat diperjualbelikan. Tentu saja asumsi ini terlalu kuat karena hal ini tidak benar di kehidupan nyata. Namun ini diperlukan agar para pembaca dapat menyerap makna dari teori ini dengan mudah melalui penyederhanaan. Saya tidak menyuruh anda semua untuk langsung mengerti apa makna dari asumsi-asumsi yang saya contohkan di atas. Namun paling tidak, saya berharap pembaca dapat mengerti esensi asumsi ekonomi dan cara penggunaannya dalam teori ekonomi. Seperti yang saya katakan sebelumnya, pengertian asumsi penting agar kita bisa melanjutkan diskusi kita ke topik yang lebih konkrit.

Sebelum menuju topik konkrit tersebut, saya akan menulis satu lagi topik kecil, yaitu “konsep elastisitas”. Dengan bekal dua topik ini, kita akan menuju ke topik utama kita yang masih sangat sederhana dan mendasar, yaitu “kenapa kita membuat keputusan ekonomi?” Mungkin saya akhiri disini saja tulisan saya kali ini. Saya tunggu komentar, saran, kritik dan diskusinya. Cheers!




Arisyi Raz
MSc Development Economics and Policy Student at University of Manchester

3 comments:

  1. Membicarakan asumsi di bidang ekonomi mmg menarik dan cukup fundamental. Yg paling menarik bagi saya adalah bgmn sifat ekonomi yg kerap dilematis antara rasional dan normatif, sehingga asumsi-asumsi yang sudah ada dan sudah umum skalipun masih bisa diperdebatkan. Seperti yg disebutkan di paragraf kedua, yg sering dilupakan adl bgmnapun jg ekonomi merupakan bagian dr ilmu sosial yang dinamis dan perlu observasi yg berkesinambungan untuk memahami fenomena yg sdg terjadi.
    Oya kalau boleh nanya, apa bedanya asumsi dengan teori? khususnya mungkin dlm bidang ekonomi..

    ReplyDelete
  2. Terima kasih atas komentarnya..

    Asumsi adalah bagian dari ekonomi teori. Sehingga bisa dibilang Economic Theory subject to Assumptions. Jadi, asumsi tersebut lah yang meng constraint teori ekonomi untuk menyederhanakannya. Tetapi bagaimanapun, constraints ini bisa dihilangkan agar teori-teori tersebut lebih berkembang dan mendekati keadaan sebenarnya di kehidupan nyata.

    ReplyDelete
  3. kalau contohnya ice cream asumsinya apa?????

    ReplyDelete