Tuesday, 22 February 2011

Why We Make (Economic) Decisions?

Seperti yang sudah saya janjikan sebelumnya, pada blog ini saya akan menulis tentang kenapa manusia membuat keputusan yang ekonomis. Walaupun blog ini akan terkesan teknikal, tapi hal-hal seperti ini diperlukan untuk membentuk rationale dalam ber “ekonomi” yang dapat dijadikan landasan dalam beragumen. Singkatnya hal ini dapat membantu nalar kita dalam menganalisa fenomena ekonomi.

Di tulisan-tulisan saya sebelumnya sudah saya sampaikan bahwa sebenarnya ekonomi itu sangat dekat dengan kita. Baru-baru ini saya melihat sebuah tulisan yang diterbitkan di salah satu jurnal terkenal membahas tentang probabilitas dan efektifitas tendangan penalti. Tentu saja banyak dari kita yang dikejutkan dengan hal-hal seperti ini (termasuk saya sendiri).

Cukup sudah basa-basinya.. Jadi kenapa kita melakukan keputusan yang bersifat ekonomi? Agar konsep ini lebih mudah dimengerti, saya akan mengambil contoh sangat sederhana. Kenapa Budi lebih memilih membeli jeruk di supermarket A dibandingkan supermarket B. Disini kita asumsikan: 1) hanya ada dua supermarket di dunia ini (i = A dan B), 2) jeruk di supermarket A dan B identik/serupa, dan 3) dan Budi adalah seorang yang rasional (pembahasan lebih lanjut mengenai hal ini ada di ECON11001). Untuk lebih menangkap logika dari pembahsan kita, saya mengembangkan model matematik sederhana. Mungkin bagi anda yang sedang/akan melanjutkan pendidikan di bidang Master akan tertarik untuk membaca ini. Tetapi bila anda tidak suka matematik, anda dapat melewatkan ini karena saya akan menjelaskannya lewat kalimat juga. Singkatnya, kita anggap keputusan Budi untuk memilih salah satu supermarket ditentukan oleh dua hal (atau dua variabel), yaitu harga dan biaya yang diperlukan untuk pergi ke supermarket. Dengan kata lain:

Bi = b(Pi, Ci)      (1)

Di mana Bi adalah utilitas (atau kenikmatan) yang didapatkan Budi ketika membeli jeruk di Supermarket i (di mana i adalah A atau B), b adalah konstan, P adalah harga (price) dan C adalah biaya yang diperlukan untuk menuju supermarket i (cost). Biaya disini dianggap sebagai biaya ekonomi. Dengan kata lain, biaya tidak hanya mencakup biaya perjalanan, tetapi juga waktu. Lalu, menurut logika, kita dapat menyimpulkan bahwa:

∂Bi/∂Pi < 0      (2)
∂Bi/∂Ci < 0      (3)

Sekali lagi saya ingatkan, anda jangan terlalu dipusingkan oleh rumus matematika ini. Ini hanya untuk memberikan intuisi bagi yang bisa membacanya. Dan juga saya berharap ada kritikan masuk bila logika matematika saya salah. Saya juga memastikan bahwa anda tidak akan kehilangan esensi tulisan ini walaupun tidak mengikuti turunan matematikanya.


Jadi dalam bahasa awam, keputusan Budi untuk membeli jeruk dipengaruhi oleh harga jeruk di supermarket dan biaya (termasuk waktu) yang diperlukan untuk pergi ke supermarket tersebut (persamaan 1). Harga dan biaya perjalanan berbanding terbalik dengan kenikmatan Budi dalam membeli jeruk (persamaan 2). Dengan kata lain, kenaikan harga jeruk dan/atau biaya perjalanan membuat keinginan Budi membeli jeruk menurun.


Lalu kita juga bisa membuat batasan sebagai berikut:

Max b(Pi, Ci)         (4)
s.t. b(Pi, Ci) ≥ r      (5)

Di mana r adalah opportunity cost. Dengan kata lain, Budi akan membeli jeruk jika kenikmatan dari jeruk tersebut sama dengan atau lebih besar dari opportunity cost nya. Contohnya, Budi lebih menikmati membeli dan memakan jeruk daripada menonton kartun Tom and Jerry yang akan diputar pada saat itu. Disini menonton kartun adalah opportunity cost karena dengan pergi membeli jeruk dia tidak dapat menonton film kartun.

Lalu, berhubung ada dua supermarket, yaitu A dan B, kita anggap bahwa supermarket A lebih dekat dan menjual jeruk dengan harga lebih murah. Di sini kita lanjutkan asumsi 4) bahwa Budi sangat elastis atau peka terhadap perubahan harga dan biaya perjalanan (lihat ECON11002). Dengan kata lain:

PA < PB       (6)
CA < CB      (7)
Sehingga:

BA = b(PA, CA) > b(PB, CB) = BB      (8)

Singkatnya, ada 2 hal yang terjadi disini. Pertama, Budi rela membeli jeruk dengan berjalan ke supermarket dan membayarnya demi mendapatkan kenikmatan jeruk tersebut. Ia juga lebih memilih melakukan ini karena memiliki utility yang lebih besar dibandingkan opportunity cost seperti bermalas-malasan di rumah, memakan apel yang sudah kadaluarsa, ataupun meminum jus jeruk yang ada di kulkas. Kedua, Budi lebih memilih supermarket A karena harga jeruk di sana lebih murah dan biaya perjalanan ke sana lebih kecil. Sehingga budi merasa lebih menguntungkan bila membeli jeruk di supermarket B.

Konsep ini memang sangat rumit dan mungkin cukup membingungkan bagi anda yang tidak sedang mempelajari matematika atau ekonomi. Tetapi inilah landasan utama bagaimana pemerintah, bank, organisasi internasional, dan agen ekonomi lainnya dalam membuat keputusan ekonomi. Sebagai contoh, apakah bank akan memberikan pinjaman microfinance atau tidak, apakah IMF akan memberikan bantuan keuangan ke negara berkembang atau tidak, apakah pemerintah akan menaikkan bea film luar atau tidak (jadi kalau anda merasa pemberhentian pemutaran film Hollywood tidak logis, mungkin pemerintah tidak melakukan analisa seperti ini. Hehehe..). Ya.. tentu saja keputusan yang dilakukan mereka jauh lebih rumit dan membingungkan. Tetapi pada dasarnya mereka menggunakan dasar-dasar yang sama.

Oleh karena itu, saya harap tulisan ini (walaupun agak sedikit sulit) dapat anda mengerti dan bisa bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Kalaupun anda tidak mengerti rumusan matematika nya, paling tidak anda dapat mengetahui bagaimana cara agen-agen ekonomi mengembangkan dalam membuat keputusan. Baiklah, saya tidak akan memperpanjang ini lagi. Sekian saja blog dari saya.. semoga bermanfaat!!





Arisyi Raz
MSc Development Economics and Policy Student at University of Manchester

1 comment:

  1. Aris, good job menjelaskan rumus matematika yang ajaib itu menjadi understandable oleh otak saya yang awam ini hehehe, ayo ris keep up the good work ya :) :)

    ReplyDelete