Wednesday, 9 February 2011

Can we still enjoy Japanese Rice?

(Maaf bila saya menunda topik tentang konsep elastisitas karena ada berita ekonomi yang cukup menarik perhatian, terutama buat teman-teman yang masih tinggal di Jepang.. Jadi saya tunda topik elastisitas dan menggantinya dengan topik ini.)

Hari ini saya menghabiskan sore yang membosankan di kelas International Finance for Development. Untuk menghabiskan waktu yang terasa berjalan lambat (karena saya sangat bosan dan sama sekali tidak bisa mengikuti pelajaran), saya membaca-baca majalah “The Economist” yang saya beli kemarin. Dari beberapa topik yang saya baca, ada beberapa isu-isu menarik di bidang ekonomi yang menginspirasi saya untuk menulis blog ini. Beberapa diantaranya adalah keberhasilan Jerman yang membuat keajaiban pertumbuhan ekonomi di tengah keterpurukan perekonomian negara maju saat ini. Lalu ada juga isu inflasi yang meningkat tidak hanya di negara berkembang, namun juga di negara maju (biasanya negara maju mengalami deflasi, kita akan membahas hal ini nanti jika saya ada waktu :D ). Inflasi kali ini disebabkan oleh kenaikan harga pangan, minyak, dll. Selain dua isu di atas, ada satu lagi isu yang menarik: Kebijakan Politik kontroversial oleh perdana menteri Jepang, Naoto Kan.

Yaaah, mohon maaf saja ya.. Walaupun isu inflasi juga sedang hot di Indonesia, tetapi saya lebih tertarik untuk membahas isu Jepang karena ini ada hubungannya dengan nasi Jepang yang sangat saya sukai. Aahh.. tentu saja bagi anda yang sudah pernah tinggal di Jepang pasti jatuh cinta oleh nasi yang sangat berlemak dan lezat ini. Inilah penyebab pemilihan topik saya yang subjektif. Hahaha.. nasi bisa juga membuat saya ngelantur!

Baiklah, cukup obrolan nasinya! Jadi.. ada apa dengan Jepang? Bagi anda yang mengikuti politik Jepang, mungkin anda sudah tahu ketidakstabilan politik Jepang sejak beberapa tahun terakhir. Sejak lengsernya Koizumi di tahun 2006, Jepang mengalami beberapa kali pergantian perdana menteri yang semuanya tidak bertahan lebih dari setahun. Puncaknya, Naoto Kan (dari Partai Demokrat Jepang) diangkat menjadi perdana menteri menggantikan Yukio Hatoyama yang mengundurkan diri karena tidak bisa memenuhi janjinya kepada rakyat Okinawa terkait pemindahan Base Camp militer Amerika di provinsi tersebut. Naiknya Naoto Kan juga menandai berakhirnya kejayaan Partai Demokrat Liberal yang sudah bertahun-tahun berkuasa di Jepang.

Hmm.. itu hanya sejarah singkat saja sebagai appetizer bagi anda yang tidak mengikuti politik Jepang atau hanya sekedar mengingatkan kembali bagi anda yang sudah pernah membacanya. Jadi, apakah kebijakan Naoto Kan yang kontroversial itu? Sebelumnya perlu anda ketahui bahwa defisit fiskal Jepang mencapai $374 miliar atau 7.1% dari total PDB (Produk Domestik Bruto) (lihat Bloomberg 5/02/11: Japan says primary deficit to narrow to 7% of GDP). Dan defisit ini adalah salah satu yang terburuk di dunia. Untuk mengatasi hal ini, Mr Kan akan menaikkan pajak konsumsi (atau pajak penjualan) untuk memperbaiki keadaan fiskal. Langkah ini cukup agresif dan berisiko tinggi. Memang pengetatan kebijakan fiskal ini dapat membantu mengurangi hutang negara Jepang, namun ini juga memeras konsumsi sehingga daya beli masyarakat akan semakin rendah. Jadi, untuk teman-teman yang masih tinggal di Jepang satu-dua tahun ke depan, bersiap-siaplah untuk menerima kenaikan harga.

Kebijakan agresif lainnya adalah niat Jepang untuk bergabung dalam Trans-Pacific Partnership (TPP). Dampak yang akan timbul jika Jepang bergabung dengan pakta perdagangan ini adalah akan dihilangkannya tarif nasi Jepang yang saat ini hampir sebesar 800% (Benar, delapan ratus persen! Saya nggak salah tulis..). Tarif ini telah dinikmati petani Jepang dan membuat pasar beras Jepang menjadi pasar beras yang paling dilindungi di bumi ini. Bagi anda yang tinggal/pernah tinggal di Jepang, pasti tahu betapa mahalnya harga beras di Jepang. Ini sangat merugikan konsumen dan membuat pasar tidak efisien. Bila tarif ini dihilangkan, maka beras dari luar dapat dengan mudah masuk ke Jepang dan konsumer dapat membeli beras dengan harga jauh lebih murah. Persaingan di dalam pasar beras ini tentunya akan melukai para petani padi di Jepang dan memaksa mereka untuk memberikan harga lebih murah. Bila mereka tidak dapat meningkatkan efisiensi, mereka akan kalah dalam persaingan dan pasar beras di Jepang dapat direbut oleh penjual internasional. Dampaknya, akan semakin sulit mendapatkan beras Jepang yang mahal itu.

Kalau anda adalah jenis orang yang lebih mementingkan harga ketimbang rasa, mungkin anda adalah termasuk konsumen yang diuntungkan oleh kebijakan itu. Tetapi bila anda jenis orang seperti saya, yang sudah jatuh hati kepada beras Jepang, mungkin anda agak sedikit bersedih hati bila kebijakan ini benar-benar dilakukan. Aaaah… anda tahu sendiri kenikmatannya yang sangat berbeda sehingga rela membayar mahal demi kualitas tersebut. Bahkan setelah hijrah ke Manchester pun, saya tetap memilih beras Jepang sebagai makanan pokok saya. Beras Jepang oh Beras Jepang.. Haha.. saya kok malah menjadi melankolis..




Arisyi Raz
MSc Development Economics and Policy Student at University of Manchester

PS:
Bagi anda yang ingin bacaan lebih lanjut bisa klik link berikut:

4 comments:

  1. Tenang saja beras jepang akan tetap ada di pasaran, mungkin karena adanya beras impor akan semakin sedikit supply di pasaran beras di Jepang dan akhirnya akan diikuti dengan naiknya harga beras jepang. Menariknya disini adalah makin banyaknya pilihan yang tersedia bagi konsumen beras di Jepang, bagi mereka yang memiliki price sensitivity yang tinggi mungkin akan memilih beras imporakan tetapi bagi mereka yg memikirkan kualitas mereka akan memilih untuk membeli beras jepang dan beras jepang akan menjadi bidikan pasar premium yang tentunya juga akan menguntungkan petani Jepang.

    ReplyDelete
  2. Well written, nicely done. Tapi kayaknya ngga usah khawatir. Walaupun dari soal harga beras Jepang sepertinya akan sulit bersaing dengan beras impor (mengingat biaya produksi mereka yang pastinya juga lebih tinggi), beras Jepang bisa dibilang punya segmen pasarnya sendiri dan mungkin ini bisa menjadi salah satu justification untuk harganya yg mahal itu. Contohnya Aris yg sdh jauh2 pergi ke Manchester tp ttp carinya beras Jepang (padahal kan dia org Indonesia yg jg adalah negara pemroduksi beras!). Dan tentunya untuk membuat sushi akan paling pas kalau pakai beras Jepang. Dengan harga yang lebih kompetitif, saya rasa petani Jepang bisa mencakup pasar yg lebih luas lg. Saya sendiri berharap petani Jepang akan ttp memproduksi beras amidst kompetisi global, krn kebetulan rasanya plg pas dgn selera saya :)

    Keep posting!

    ReplyDelete
  3. FF: Stevie Susanto10 February 2011 at 04:37

    Hmmmm, self sufficiency rate nya jepang di bagian makanan itu udah rendah sekali loh dibandingin negara maju yang laen (sekitar 42%). jadi kalo sekarang giliran pasar beras yang dibuka sih mungkin memang sudah waktunya kali ya. Tapi yang perlu diperhatiin adalah :
    1. Petani jepang sangat efisien. Jumlah petani di jepang sudah menurun drastis tetapi hasil produksi mereka tidak pernah menurun malah meningkat.
    2. Middle class economy nya Jepang sangat besar dan tuntutan mereka akan kualitas barang juga cukup tinggi. Apalagi soal beras yang mereka makan dari kecil, orang luar yang udah makan beras jepang aja males makan beras laen apalagi orang jepang sendiri.
    Jadi kesimpulannya kalo pasar beras dibuka pun petani jepang akan mampu bertahan (nggak selamanya sih) kalau mereka mau melakukan penyesuaian harga.

    ReplyDelete
  4. Terima kasih atas komentarnya yang menghasilkan sebuah diskusi. Memang pada akhirnya hal yang terjadi tidak akan setragis judul yang saya tuliskan. Tetapi bagaimanapun petani beras lokal akan mengantisipasi persaingan yang dapat merugikan mereka. Pada akhirnya ini semua tergantung pada elastisitas permintaan. Elastisitas ini juga tergantung dari bagaimana kita memandang pasar beras di Jepang. Di satu ekstrem, beras luar bisa dianggap sebagai barang yang bersifat perfect substitution sehingga pasar tidak memandang perbedaan antara beras lokal dan luar. Di ekstrem lain pasar bisa memandang beras Jepang sebagai sebuah produk niche yang berbeda dari beras luar, sehingga pasar khusus untuk beras Jepang tetap ada.

    Memang terlalu dini untuk menyimpulkan apa-apa, lagipula kebijakan ini belum final. Namun bagaimanapun kebijakan ini akan berdampak ke pasar beras Jepang, terlepas dari besar kecilnya magnitude dari dampak ini. Dan juga, ngga mungkin kita makan sushi dengan beras India atau Thailand. Hehehe.. Jadi kesimpulannya, apapun masih bisa terjadi saat ini. Semoga saja yang terjadi adalah yang terbaik bagi para pecinta beras Jepang (loh!?)

    ReplyDelete