Wednesday, 2 March 2011

Book Review: “Escape From Empire: The Developing World’s Journey through Heaven and Hell” by Alice H. Amsden


Sore ini matahari bersinar begitu cerah di Manchester, membuat saya tidak tahan untuk berlama-lama di kamar (berhubung sinar matahari termasuk barang langka di Manchester). Setelah selesai tutorial ekonometri jam 2, saya pulang untuk beres-beres sebentar lalu pergi keluar sendirian untuk menikmati sore indah di Manchester. Perjalanan saya ke pusat kota Manchester di Deansgate untuk mendatangi toko hobby yang menjual model-model pesawat dan barang hobby lainnya. Dari situ, saya meneruskan jalan tanpa arah di jalan yang besar melihat orang lalu lalang. Tiba-tiba saya melewati toko buku Waterstone yang besar. Berhubung saya juga penggemar buku, jadi saya sekalian singgah untuk melihat-lihat. Pada akhirnya, saya membeli buku karangan J.R.R. Tolkien dan Haruki Murakami. Hahaha.. cerita ini sudah makin ngawur..

Jadi hubungan paragraf pertama di atas dengan blog ini adalah: persinggahan saya ke toko buku membuat saya teringat untuk me review sebuah buku yang cukup menarik yang berjudul Escape from Empire: The Developing World’s through Heaven and Hell karya Alice H. Amsden terbitan MIT Press. Saya membeli buku ini dari amazon.co.jp sekitar akhir 2009 dan langsung membacanya. Penulisnya sendiri adalah seorang profesor IPE (International Political Economy) di MIT.

Buku ini bercerita tentang Amerika sebagai superpower dunia yang mempengaruhi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi di negara berkembang. Amsden menyebut Amerika sebagai sebuah kekaisaran dan membaginya ke dalam dua periode: 1950-1980 dan 1980-sekarang. Dalam hal ini dia memberikan sebuah argumen yang cukup mengejutkan: bahwa sewaktu kekaisaran pertama negara berkembang tumbuh dengan rata-rata 5% per tahun, di mana di kekaisaran kedua terlepas dengan digemborkannya liberalisasi, deregulasi, dan privatisasi (dikenal juga dengan holy trinity), pertumbuhan di negara berkembang hanya mencapai rata-rata 3% per tahun.

Ia juga menambahkan bahwa negara berkembang perlu diberi kebebasan dalam menentukan kebijakan ekonomi dalam proses industrialisasi menuju negara maju. Namun faktanya, di periode kedua kekaisaran Amerika, fleksibilitas negara superpower ini semakin berkurang dan mempengaruhi pertumbuhan di negara berkembang. Fakta ini ada benarnya dan didukung oleh buku J. Stiglitz yang berjudul Globalisation and its Discontents. Dalam buku ini, Stiglitz juga menyebutkan bahwa negara ini lebih “Global” di era Pra PD I hingga 1960an dibandingkan 1990an hingga sekarang yang justru disebut dengan era globalisasi. Banyak literatur yang lebih akademik dan teknikal juga menyimpulkan hal yang sama bila. Ini juga dibuktikan dengan melihat keajaiban ekonomi di negara Asia Timur (seperti Korea, Taiwan, Hong Kong, dan Singapura) yang terjadi di era 1960-1980an.

Di era kedua kekaisaran, Amerika yang tergila-gila dengan ideologi pasar bebas menerapkan kebijakan ekonomi yang kaku dan memperlakukan semua negara berkembang secara sama (sebenarnya, kebijakan ekonomi harusnya diterapkan secara fleksibel tergantung keadaan ekonomi di negara tersebut). Di era ini, Amerika ingin menghilangkan protectionism yang justru menghambat laju dari industrialisasi dan perdagangan bebas itu sendiri. Oleh karena itu, Amsden mengemukakan bahwa kekakuan inilah yang menyebabkan lahirnya raksasa baru, Cina dan India, yang tumbuh dengan kekuatan ekonomi dengan cara mereka sendiri. Ini membuat Amerika semakin sulit untuk menjadi satu-satunya negara superpower di dunia modern ini. Tetapi, ia juga menambahkan bahwa Cina juga tidak mungkin menggantikan Amerika sebagai negara superpower. Dunia sudah semakin berkembang dan hubungan tiap negara tidak sesederhana dulu. Sehingga akan sulit untuk menjadi satu-satunya negara superpower seperti Inggris di abad 19 dulu.

Buku ini sendiri dapat menjadi bacaan yang menarik bagi anda yang tertarik dengan political economy. Amsden memberikan wacana yang kongkrit didukung oleh data statistik, membuat bacaan ini pas untuk dibaca kalangan akademisi. Namun, Amsden juga memberikan pembawaan yang cukup reader friendly sehingga tetap dapat dibaca oleh kalangan awam. Walaupun ditulis dua tahun yang lalu, masih relevan untuk di baca saat ini untuk menjadi insight bagi kita mengenai perlakuan Amerika sebagai superpower dunia. Kita juga dapat menjadikan buku ini sebagai perbandingan apabila Cina maju dan mendampingi Amerika dan membentuk bipolarisasi negara superpower seperti zaman Amerika-Rusia dulu.


Arisyi Raz
MSc Development Economics and Policy Student at University of Manchester

3 comments:

  1. Haha makasih Kak Aris buat komentar dan diskusinya, sebenernya saya bukan ahli2 amat dalam bidang IPE, hehe.

    Analisisnya Amsden kayaknya menarik, dan perlu dibaca untuk memperkaya khazanah pengetahuan kita dalam bidang IPE.

    Adapun pemikir-pemikir / karya-karya yang lain yang mungkin bisa dijadikan referensi IPE adalah: Kishore Mahbubani & Fareed Zakaria (HI), Johan Galtung (Peace Studies), Hardt & Negri (Filsafat, Neo-Marxis), Tariq Ali, dll. Artikelku sendiri lebih fokus ke perspektif sosiologis-antropologis atas trasnasionalisme, makanya pakai teori-teorinya Aihwa Ong (antropologi) dan Katharyne Mitchell (geografi).

    Beberapa hal yg juga menjadi kesempatan umum a.l.: tidak terbuktinya klaim-klaim teori world system, terungkapnya the rise of the rest / post-american world, dan juga tidak melemahnya kekuasaan nation-state.

    Untuk menutup, ada baiknya mungkin kita kembali mengingat kata-kata ahli politik-ekonomi terkemuka asal Perancis, Frederic Bastiat: "when goods cannot cross borders, arms will". Demikian.

    *Just my two cents

    ReplyDelete
  2. setuju ttg beberapa poin:
    world system memang ga bisa dibuktikan.. karena world's international labor division sendiri mengalami suatu convergence sehingga gap antara labour di IC dan LDC mengecil.

    the raise of China and India juga mengurangi kekuasaan amerika sebagai motor penggerak socio-economic nya dunia

    tetapi soal melemahnya nation-state, menurut saya agen-agen ekonomi yang non-state/non-governmental terus mengerutkan bargaining power dari negara-negara anggotanya. apa ada justification lebih lanjut mengenai hal ini? ini sekaligus menanyakan artikel Iqra yg berjudul: Neoliberalisme di Asia: Antara Mitos dan Realitas

    ReplyDelete
  3. Mengulas posisi nation-state ini memang problematik, karena di satu sisi memang nation-state tidak serta merta melemah, melainkan mentransformasikan kekuatannya (thus graduated sovereignty, in Aihwa Ong's term). Namun demikian peran non-state actors juga tidak bisa dipungkiri. Pertanyaannya, di manakah titik ekuilibrium-nya dan mau diapakan si titik ekuilibrium itu?

    Dari perspektif HI dan studi-studi politik perbandingan, peran institusi ini sebenarnya semakin lama semakin penting. Pertanyaannya, bagaimana agar institusi-institusi ini, selain menjadi semakin efektif, juga bisa terhindar dari proses "institutionalisasi" yg berlebihan yang berujung pada stagnansi. Ini tentunya menjadi tugas bersama, dalam tataran nation-state maupun transnasional/global.

    *Just my two cents

    ReplyDelete