Friday, 18 March 2011

Japanese Earthquake and Tsunami 2011: Part II

Pagi ini, di perjalanan saya menuju kampus, saya menerawang melihat langit yang sedikit mendung dan pohon2 yang belum menumbuhkan daunnya. Lantas saya berfikir "Hmmm.. Musim semi belum datang di Manchester." Dan ini mengingatkan saya bahwa di saat-saat seperti ini adalah waktu yang sangat pas untuk berada di Jepang. Bunga-bunga mulai bermekaran, taman-taman mulai hijau kembali, dan dalam dua minggu Sakura akan mekar. Pastinya ini menjadi saat paling indah di Jepang. Melihat orang-orang bepergian ke taman (hanami) sambil menikmati bento (lunch box) dan ocha (teh Jepang) yang hangat di bawah sinar matahari yang cerah. Semua orang bergembira.. bahkan bagi orang yang hanya lewat dan melihat pemandangan itu, dia akan merasakan kebahagiaan yang terpancarkan.

Inilah Jepang yang saya kenal... Jepang yang saya cintai..

Tetapi tahun ini mungkin sedikit berbeda di Jepang.. Gempa yang terjadi minggu lalu mungkin telah menyerap sebahagian besar kebahagiaan yang ada di Jepang. Ini jelas masa yang buruk bagi negeri Sakura itu.. Jepang adalah negara yang fragile dari sisi perekonomian. Mereka adalah raksasa yang pincang, dan gempa kemarin telah membuat raksasa itu terjatuh. Saya sebagai murid yang mempelajari ekonomi juga sedikit pesimis melihat kejadian ini. Namun, ketika pagi tadi saya membaca artikel The Economist yang berjudul The Cost of Calamity, harapan saya kembali bangkit.

Di artikel tersebut dikatakan bahwa kerugian tsunami kali ini bisa lebih dari $200 milyar. Pabrik-pabrik banyak yang tutup, tidak hanya di daerah gempa tetapi juga di daerah lainnya karena jalur distribusi terganggu. Gempa ini juga akan menjatuhkan PDB jepang pada tahun ini. Karena hancurnya sarana transportasi dan utility, ini akan mengganggu arus laju barang dan transaksi yang dapat menurunkan PDB suatu negara. Walaupun di short term ini mengganggu perekonomian Jepang, menurut artikel tersebut, perekonomian Jepang dapat recover dengan cepat jika merujuk kepada kasus gempa bumi Kobe. Pada saat itu dalam setahun tingkat produksi setahun setelah gempa telah mencapai 98% dari tingkat sebelum gempa. Walaupun saat ini mungkin keadaan dan magnitude nya berbeda, tetapi ada harapan bahwa perekonomian Jepang dapat kembali normal dalam waktu beberapa tahun ke depan. Di artikel itu juga disebutkan bahwa proses recovery akan berjalan jauh lebih mudah daripada pembangunan awal. Karena proses recovery dapat dilakukan dengan melakukan track seperti sebelum bencana terjadi. Sehingga hanya tinggal mengikuti fitur awal yang sudah digunakan. Sedangkan pembangunan dari awal jauh lebih rumit dan costly. Dalam hal ini, Jepang tentu sudah memiliki kebijakan yang terarah dan teratur sehingga proses pembangunan kembali tidak akan terlalu sulit.

Jepang mungkin memang sedang mengalami masa gelapnya. Tapi ingat.. 日本って侍の国だよ! (Jepang adalah negeri para samurai!) Walaupun sekarang samurai sudah tidak ada lagi, saya masih yakin bahwa orang Jepang masih memiliki jiwa samurai. Baru-baru ini saya mendapat berita dari seorang murid Indonesia yang sedang belajar di Jepang. Di tengah masa suram seperti ini, media Jepang tidak memutarkan lagu-lagu galau dan menunjukkan tangisan-tangisan sendu. Yang mereka tunjukkan adalah pesan agar warga tetap waspada, permintaan maaf dari pemerintah karena ada gangguan listrik, tips-tips menanggulangi bencana, potret warga bahu-membahu membantu korban gempa, dan pesan bahwa Jepang akan bangkit kembali. Ini jelas bukan hal yang kita temukan ketika gempa di Aceh dan Yogyakarta terjadi..

Kalau anda pernah tinggal di Jepang, mungkin anda akan sangat familiar (dan mgkn muak) dengan kata Ganbaru (ガンバル). Tidak ada kata yang pas dalam bahasa Indonesia untuk menjelaskan arti sebenarnya kata ini. Tetapi secara komprehensif, kata ini berarti semangat atau pantang menyerah. Anda yang pernah tinggal di Jepang mungkin selalu mendengar kata-kata ini. Ketika mau ujian, ketika mau melakukan sebuah pertunjukan ataupun hal-hal lainnya. Kita sebagai orang asing mungkin tidak benar-benar mengerti apa fungsi dari kata ini. Tetapi membaca pesan dari murid Indonesia tersebut, saya baru menyadari apa makna dari kata tersebut. Saat ini kata itu sedang dikumandangkan di mana-mana untuk menyebarkan virus semangat ke orang-orang disekitarnya. Kata itu sendiri merupakan sebuah mantra yang memberikan kekuatan. Inilah Jepang yang saya tahu.. mereka adalah negeri yang pantang menyerah.

Kalau kita melihat kembali sejarah.. Jepanglah negara yang berani berperang melawan Rusia di zaman post-imperial. Jepang jugalah yang menyerang Pearl Harbour dan mendapatkan dua serangan bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Dan negara yang sama juga mengalami gempa bumi dahsyat di Kobe pada tahun 1995 kemarin. Dan mereka masih tetap bisa bangkit.. Menjadi pemimpin dari The Flying Geese Asia, menjadi perekonomian kedua terbesar di dunia, dan menjadi pelindung Asia. Saya yakin, kali ini mereka akan bangkit sekali lagi. Di tengah krisis socio-economics seperti sekarang ini, di mana semakin banyaknya フリーター (freeter) di mana semakin menuanya populasi Jepang.. Saya yakin Jepang akan bangkit kembali sebagai raksasa Asia.. Karena Jepang adalah negerinya samurai!

Maaf kalau tulisan saya sedikit melankolis.. Ini memang blog yang termakan emosi :(


Diterbitkan di Harian Waspada, 24 Maret 2011, halaman B12.
Arisyi Raz
MSc Development Economics and Policy Student at University of Manchester.

3 comments:

  1. tulisan yang bagus ris, sangat inspiratif, kalo mau berhasil jangan mudah menyerah, yang membedakan bangsa berhasil salah satunya karena mereka bisa bangkit dari kejatuhan ris,

    ReplyDelete
  2. Setiap ada ujian pasti ada hikmah dibaliknya, jadikanlah pembelajaran dan peristiwa Jepang adalah cemeti bagi kita untuk bekerja keras dan berfikir cerdas semoga hari ini lebih baik dari hari kemarin dan hari esok lebih baik dari hari ini. Itulah pertanda orang2 yg beruntung. Amin YRA.

    ReplyDelete
  3. Informasi yang sangat berharga. Masyarakat Indonesia harus belajar dari Jepang, bagaimana mereka bangkit dari masalah. Thank a lot Arisy...
    Good luck....

    ReplyDelete