Monday, 14 March 2011

Japanese Earthquake and Tsunami 2011: Part I

Pagi hari pada Jumat, 11 Maret 2011 kemarin saya mendapat banyak sms dan BBM (Blackberry Messengerä) mengenai gempa 8.8 SR yang mengguncang beberapa wilayah di Jepang. Membaca pesan elektronik tersebut saya langsung membuka komputer dan melihat berita di Metro TV, BBC News, dan CNN. Saya melihat banyak cuplikan mengenaskan dari mulai kapal yang terbawa ombak hingga ke kota, whirlpool, hingga arus tsunami yang menghancukan Sendai. Berita ini sangat menyedihkan saya mengingat saya pernah tinggal selama empat tahun di Jepang dan jatuh cinta pada negara tersebut. Seakan-akan itu belum cukup, hari ini dan kemarin terjadi ledakan pada reaktor nuklir di Fukushima. Walaupun belakangan dikonfirmasi yang meledak bukanlah inti reaktor nuklir tersebut, tetapi ledakan reaktor itu sudah melukai banyak orang dan membuat sekitar 20 orang terkena radiasi. Para ahli nuklir cukup optimis bahwa kebocoran ini tidak akan separah kebocoran reaktor Chernobyl di Rusia pada tahun 1986 karena pengamanan Jepang yang lebih baik. Namun tidak tertutup kemungkinan reaktor ini bisa benar-benar meledak. Hingga saat ini korban gempa sudah mencapai 2.000 orang lebih dan diperkirakan total korban di Miyagi sendiri saja bisa mencapai lebih dari 10.000 orang. Dari segi kekuatan, gempa kali ini adalah yang kelima terkuat sejak 1900. PM Jepang, Naoto Kan, menyampaikan bahwa bencana ini adalah yang terburuk sejak PD II.

Apakah dampak kejadian ini dari segi ekonomi? Tentu saja ini menjadi tambahan berita buruk lagi. Banyak bisnis yang tutup setelah kejadian tersebut. Sarana transportasi juga banyak yang rusak, padahal Jepang terkenal dengan sarana transportasinya yang sangat modern dan canggih. Selain itu, banyak listrik, air, dan gas yang mati. Kerusakan pembangkit listrik di Fukushima sendiri menyebabkan pemadaman listrik bergilir di sebagian besar wilayah Jepang. Putusnya sarana ini tentu bisa memperpuruk keadaan bisnis dan ekonomi di Jepang lebih jauh. Menurut The Economist, kerugian gempa kali ini bisa melebihi kerugian gempa Kobe sebesar $120 milyar (¥10 bilyar). Ini sangat merugikan Jepang, mengingat perekonomian sejak 20 tahun terakhir bisa dibilang mandeg. Justru tahun ini di mana perekonomian mulai menunjukkan pemulihan, tsunami dan gempa ganas melanda dan meluluhlantakkan Jepang.

Bila kita lihat dari perspektif pasar, indek Nikkei turun 6% pada sesi pertama pada hari Senin. Beberapa saham yang berinvestasi di bidang pembangkit listrik tenaga nuklir seperti Tokyo Electric Power Company turun hingga 24% (Menurut data The Economist). Bahkan ada saham-saham yang tidak diperjual-belikan karena turun sangat jauh. Dari pasar mata uang, mata uang Yen justru menguat setelah gempa. Tetapi hal ini justru memperburuk keadaan karena perusahaan Jepang akan lebih sulit untuk melakukan ekspor. Padahal selama ini banyak pasar ekspor Jepang sudah diambil oleh Cina. Banyak pengamat mengatakan pembangunan kembali Jepang akan memakan waktu yang cukup lama. Mengingat perekonomian Jepang sudah tersendat-sendat sejak dua dekade terakhir. Tetapi banyak juga ekonom yang optimis bahwa perekonomian Jepang dapat pulih kembali pada akhir tahun ini.

Dampak gempa ini juga mempengaruhi perekonomian internasional. Indeks pasar di Hong Kong, Amerika dan Inggris juga mengalami sentimen negatif menanggapi bencana ini. Bahkan harga minyak yang sudah beberapa saat terakhir di atas $100 turun menjadi di bawah $100 untuk pertama kalinya sejak beberapa bulan terakhir. Penurunan ini akibat dari turunnya permintaan minyak dari Jepang. Walaupun pasar saham IHSG masih bisa bertahan pada hari Senin, tetapi bencana ini bisa mengurangi pendapatan ekspor di Indonesia. Dengan kata lain, gempa ini menghasilkan short-term shock di perekonomian internasional.

Jepang memang pernah menjadi raksasa di Asia dalam bidang ekonomi. Negara matahari terbit ini dikenal sebagai pemimpin the flying geese di Asia. Tetapi raksasa sekalipun akan mengalami masa berat suatu saat. Kita semua diajarkan di bangku sekolah bahwa Jepang adalah negara penjajah yang jauh lebih kejam dari Belanda. Tetapi itu adalah masa lalu yang tidak perlu kita ungkit-ungkit lagi. Kita tidak akan bisa menikmati pertumbuhan perekonomian seperti sekarang tanpa Jepang. Bahkan saat ini, Jepang merupakan salah satu negara tujuan ekspor terbesar di Indonesia. Perusahaan Jepang juga banyak memberikan investasi di bidang infrastruktur dll. yang tentunya berguna bagi pembangunan negara kita. Bahkan UKM sekalipun juga banyak menggantungkan usahanya kepada pembeli dari Jepang. Jepang jugalah negara donatur terbesar saat kita dilanda Tsunami Aceh pada tahun 2004 kemarin. Oleh karena itu, inilah saatnya kita sesama manusia untuk saling membantu satu sama lain. Mari kita tunjukkan rasa solidaritas kita dan memberitahukan pada dunia bahwa Indonesia peduli!

Link untuk memberikan donasi:
dan mungkin masih banyak lagi sarana-sarana untuk memberikan donasi yang bisa anda dapatkan.


Diterbitkan di Harian Waspada, 24 Maret 2011, halaman B12.
Arisyi Raz
MSc Development Economics and Policy Student at University of Manchester.

3 comments:

  1. Semoga tulisan ini menjentu hati kita untuk mendoakan agarjepang segera dapat mengatasi musibah ini

    ReplyDelete
  2. semoga ini bisa jadi pertimbangan buat negara2 lain yg lagi ngembangin nuclear energy, misalnya france, atau dua negara asia yg paling getol ngembangin nuklir energy; china, india

    ReplyDelete
  3. Sebagai umat yg beriman tentuya kita dapat mengambil iktibar dari cobaan ini,sangat prihatin semoga ada hikmahnya dan dampak ekonomi dll, cepat berlalu, pulih kembali. Amin YRA.

    ReplyDelete