Friday, 22 July 2011

A reflection towards the first decade of AFTA: Lessons to learn

Mungkin sejak tahun 2003 banyak pengusaha di negeri ini yang menyadari bahwa persaingan perdagangan di Indonesia semakin ketat dengan meningkatnya tekanan dari luar negeri setelah AFTA menjadi operasional secara penuh pada tanggal 1 Januari 2003. Mungkin sebagian besar dari kita tahu, bahwa AFTA adalah sebuah pakta yang disetujui pada tahun 1993 dan menyetujui penghilangan "trade barrier" baik yang berbentuk tarif maupun quota di antara negara-negara ASEAN. Sudah lebih dari tujuh tahun pakta ini beroperasional secara penuh dan mungkin penilitian secara resmi diperlukan untuk melihat apakah pakta ini benar-benar membuahkan hasil yang signifikan atau tidak. Melihat sebelumnya banyak usaha aliansi ekonomi serupa yang gagal seperti ASEAN PTA dan APEC. Untuk mengukur ini, saya melakukan estimasi dengan menggunakan model ekonometrika yang diadopsi dari teori Gravitasi Isaac Newton. Sebagai sampel, saya menggunakan panel data set dari tahun 1988-2009 yang mencakup negara ASEAN 6 (Indonesia, Thailand, Singapura, Filipina, Malaysia dan Brunei) dan tiga negara Asia Timur lain yang sangat berpengaruh bagi perekonomian ASEAN: China, Jepang dan Korea Selatan.

Sebelum melihat dampak AFTA, ada baiknya utk melihat apa sajakah yang mempengaruhi perdagangan di ASEAN. Oleh karena itu, bagian pertama dari estimasi saya adalah untuk mencari faktor-faktor apa sajakah yang memiliki dampak signifikan terhadap perdagangan di ASEAN 6. Hasil dari estimasi tersebut menunjukkan bahwa PDB negara pengimpor berperan penting dalam perdangan di ASEAN. Lebih tepatnya, kenaikan PDB negara pengimpor sebanyak 1% meningkatkan ekspor negara pengekspor sekitar 2%. Intuisi nya jelas. Bila sebuah negara memiliki PDB yang besar, tentu mereka cenderung untuk membeli barang dari luar lebih banyak. Faktor lainnya adalah persamaan struktur permintaan kedua negara. Jika kedua negara memiliki struktur permintaan yang sama, maka kedua negara ini akan cenderung melakukan perdagangan lebih banyak. Sebagai contoh bila negara A dan B sama-sama mengkonsumsi benda X, tentu kedua negara cenderung untuk saling memperdagangkan benda ini. Hal lain yg mempengaruhi perdagangan ASEAN adalah perbedaan kemajuan teknologi. Rasional di balik hasil ini adalah, jika dua negara memilik tingkat kemajuan teknologi yang relatif sama, maka kedua negara tersebut dapat melakukan perdagangan yang bersifat komplementer. Contohnya, bila negara A dapat memproduksi mikro komponen untuk komputer dan negara B dapat memproduksi casing dan monitor, maka kedua negara itu dapat saling melengkapi kebutuhan mereka dengan berdagang. Bila teknologi di negara itu tidak sama, maka salah satu negara tidak mgkn dapat memproduksi barang tersebut sehingga perdagangan tidak terjadi. Kesimpulannya, estimasi saya menunjukkan bahwa tiga variabel inilah yang menjadi penentu perdagangan di ASEAN.

Selanjutnya, saya memasukkan Jepang, Cina dan Korea Selatan ke dalam data set saya dan melakukan estimasi ulang. Namun kali ini saya menambahkan model awal dengan beberapa variabel tambahan untuk menangkap dampak ASEAN secara global. Hasilnya memang menunjukkan bahwa AFTA telah meningkatkan perdagangan antar negara ASEAN secara signifikan. Ini membuktikan bahwa AFTA telah berhasil atau paling tidak sedang menuju pencapaian visi dan misi nya. Hal ini disebut juga dengan "trade creation" atau penciptaan perdagangan. Selain itu, estimasi tersebut juga menunjukkan bahwa "trade diversion" juga terjadi dengan bergesernya aktifikas ekspor negara-negara ASEAN yang menjadi lebih terfokus kepada sebatas negara ASEAN saja. Dengan kata lain, walaupun integrasi ekonomi negara-negara ASEAN semangkit erat lewat jalur perdagangan, hal ini terjadi dengan mengorbankan perdagangan-perdagangan dengan negara non-ASEAN.

Hasil lainnya yang mungkin menarik adalah semakin meningkatnya aktifitas perdagangan negara-negara ASEAN dengan Cina sejak tahun 2003. Pertumbuhan Cina yang sangat pesat telah membuat Cina berhasil mengambil alih secara perlahan pasar perdagangan ASEAN yang dipegang Jepang selama puluhan tahun. Estimasi saya menunjukkan bahwa sejak tahun 2003-2009, perdagangan Cina dengan ASEAN meningkat dgn signifikan sedangkan perdangan Jepang dengan menurun ASEAN setiap tahunnya.

Ya.. memang hasil riset saya dilihat dari sudut pandang ASEAN secara kolektif dan bukan Indonesia sebagai negara secara individu. Namun ini paling tidak memberikan sedikit insight bahwa meningkatnya perdagangan di ASEAN membuat negara Indonesia harus terus meningkatkan daya saing melalui kemajuan IPTEK. Dalam hal ini, peningkatan daya saing tidak bersifat statis, tetapi peningkatan yang dinamis seperti yang diungkapkan oleh Palma (2009) dalam bukunya yang berjudul Flying Geese and Wadding Ducks. Di buku ini diungkapkan bahwa peningkatan dinamis adalah peningkatan kemampuan teknologi dengan mengikuti perubahan permintaan pasar internasional dari waktu ke waktu. Bila ini kita lakukan, kita tidak akan kehilangan daya saing di masa yang akan datang.

Hal lain yang mgkn cukup penting adalah lahirnya Cina sebagai raksasa baru. Terlihat jelas bahwa Cina sedang mengambil alih pasar ASEAN (dan mungkin juga dunia). Hal ini bahkan terjadi jauh sebelum diresmikannya ASEAN China FTA (ACFTA) pada tahun 2010. Oleh karena itu, peningkatan kualitas teknologi di Indonesia harus diiringi dengan peningkatan efisiensi yang tinggi sehingga daya saing yang dicapai dapat dimaksimalkan. Walaupun Cina dikenal sbg negara penjual barang berkualitas rendah dengan harga murah, ini tidak boleh membuat kita lengah. 50 tahun yang lalu, Jepang adalah "Cina" nya dunia dan sekarang mereka termasuk salah satu perekonomian terbesar di dunia. Pada saat ini, Cina adalah perekonomian terbesar kedua di dunia. Sangatlah mungkin jika perkembangan ini membuat mereka menjadi perekonomian terbesar dan menggantikan AS.

Singkatnya, Indonesia masih bisa memanfaatkan banyak hal-hal positif di era globalisasi yang diiringi peningkatan integrasi ekonomi negara-negara dunia. Tidak ada gunanya pemikiran skeptis yang tidak membangun dengan mengatakan bahwa perdagangan bebas akan mengancam pengusaha lokal. Pemikiran seperti itu tidak akan membuat kita maju dan malah membuat kita tertinggal. Memang, mungkin itu ada benarnya, namun kita tidak dapat melawan arus pergerakan dunia global. Ini sudah terjadi dan tidak dapat dibalikkan. Karenanya, mari kita lihat fenomena ini dari sudut pandang yang positif. Bila anda seorang pengusaha, sebelum AFTA dan ACFTA pembeli anda hanyalah orang Indonesia. Namun sekarang seluruh ASEAN dan Cina dapat membeli barang anda tanpa rintangan antar negara. Yang diperlukan adalah ide yang orisinil, diikuti dengan kerja keras dan konsistensi. Tentu tantangan yang dihadapi tidak akan mudah. Namun saya yakin dengan usaha yang keras kita akan berhasil. Oleh karena itu, mari kita coba! Untuk Indonesia!


Diterbitkan di Harian Waspada, 30 Juli 2011, halaman B7.
Arisyi Raz
MSc Development Economics and Policy Student at University of Manchester.

1 comment:

  1. 'Tidak ada gunanya pemikiran skeptis yang tidak membangun dengan mengatakan bahwa perdagangan bebas akan mengancam pengusaha lokal.' #AGREE masyarakat seharusnya bisa open-minded dan tentunya - dengan dibantu pemerintah- bisa berrembug bareng untung memecahkan masalah contohnya dukungan tinggi pemerintah terhadap industri kreatif dan ukm kecil di Indonesia. Selain itu, semangat berbisnis masyarakat ditingkatkan lagi, nggak ada tuh yang namanya takut sama kompetisi. Indonesia pasti bisa!

    ReplyDelete