Thursday, 18 August 2011

66 Tahun Indonesia Merdeka: Kemanakah arah perekonomian Indonesia?

Mungkin Indonesia bukan negara tertua di bumi ini, tetapi sudah jelas bahwa 66 tahun bukanlah usia sebuah negara muda. Di usia ke 66 tahun ini, mungkin kita dapat mengatakan bahwa kita belum cukup puas terhadap proses permbangunan ekonomi di Indonesia. Bila kita melihat sejarah, Korea Selatan berumur 3 tahun lebih muda dari Indonesia, dan mereka sudah jauh lebih sukses di bidang sosio-ekonomi dibandingkan kita. Oleh karena itu, di hari ulang tahun negara kita ini, ada baiknya sedikit merenungi kembali sejauh mana proses pembangunan ekonomi bangsa ini.

Jujur saja, bila kita mengikuti perspektif ekonom luar negeri, jelas banyak yang melihat bahwa Indonesia adalah negara yang potensial untuk menjadi salah satu raksasa ekonomi Asia di masa yang akan datang. Bila kita melihat statistik, memang jelas pertumbuhan ekonomi Indonesia cukup stabil, pendapatan per kapita naik dari tahun ke tahun, dan inflasi bisa terbilang stabil, walaupun jelas kita tetap mengalami seasonal shock dari waktu ke waktu. Beberapa saat yang lalu saya melihat sebuah wawancara di CNN oleh Ramy Inocencio. Di wawancara tersebut ia mengatakan bahwa saat ini Indonesia adalah "jangkar" dari perekonomian ASEAN. Ini dicerminkan dari membaiknya sistem kebijakan moneter, semakin besarnya masyarakat menengah, dan potensi pasar yang sangat besar di Indonesia. Selain itu, banyak juga yang mengatakan pondasi ekonomi negara kita ini sangat kuat melihat dampak krisis global 2008 dan gejolak ekonomi yang terjadi di Eropa dan Amerika tidak terlalu signifikan di Indonesia. Singkatnya, pandangan optimis dari luar negeri seperti ini sangat kita perlukan untuk membangun sentimen positif.

Berbeda dengan sentimen positif ini, saya mencermati bahwa pandangan bangsa kita terhadap pembangunan ekonomi Indonesia tidak seoptimis itu. Di satu sisi, jelas yang lebih mengetahui keadaan negara kita ya kita sendiri, bukan orang asing. Contohnya, beberapa minggu yang lalu saya menerima sebuah artikel dari teman saya mengenai "pincang"-nya proses pembangunan negara kita. Menurut artikel tersebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia terlalu bergantung kepada sektor servis (seperti perbangkan) yang tidak terlalu banyak menyerap lapangan pekerjaan. Sedangkan pertumbuhan di sektor manufaktur dan agrikultur sedikit tersendat. Padahal, justru sektor ini lah yang lebih banyak menyumbangkan lapangan pekerjaan. Secara makro, memang pertumbuhan di sektor servis ini cukup baik, namun sayangnya hanya bisa dinikmati segelintir orang kaya/pemilik modal saja, sehingga cenderung mencerminkan meningkatnya kesenjangan pendapatan. Sebaliknya, jika pemerintah mampu menggenjot sektor manufaktur dan agrikultur, maka akan ada banyak lapangan pekerjaan baru tercipta yang dapat meningkatkan pendapatan per kapita penduduk, sehingga PDB Indonesia meningkat dan kesenjangan pendapatan berkurang.

Kalaupun benar adanya pengingkatan kesenjangan pendapatan seperti yang mereka katakan, ini belum berarti tidak ada harapan kedepannya untuk menunjang sektor manufaktur dan agrikultur. Insentif dari pemerintah tentu sangat berperan besar dalam menunjang kedua sektor ini. Insentif ini dapat berupa subsidi, keringanan pajak, ataupun bantuan-bantuan lainnya. Karena bila kita melihat sejarah ekonomi negara-negara industri baru seperti Korea Selatan dan Taiwan, keberhasilan mereka di bidang ekonomi tidak lain karena adanya pertumbuhan manufaktur yang kuat. Ini semua tidak mungkin berjalan efektif jika tidak ada dukungan kuat dari pemerintah.

Walaupun pemerintah memiliki peran signifikan, ini tidak berarti masyarakat Indonesia tidak dapat berperan dalam proses ini. Di saat seperti ini lah jiwa wirausaha perlu dikembangkan sehingga lebih banyak lapangan kerja baru akan tercipta. Beberapa penulis mengatakan bahwa korelasi antara pertumbuhan ekonomi dan kesenjangan pendapatan cenderung seperti ditunjukkan oleh model Kurva Kuznet. Dalam kurva ini, kesenjangan pendapatan ada pada axis-y dan pendapatan ada pada axis-x. Dari sini, kita bisa melihat bahwa di awal pertumbuhan ekonomi, kesenjangan pendapatan kecil karena hampir semua penduduk miskin. Di tengah-tengah pertumbuhan ekonomi, kesenjangan pendapatan akan meningkat karena sebagian penduduk menjadi lebih kaya seiring peningkatan taraf hidup masyarakat dan sebagian lagi masih akan tertinggal. Namun, di akhir dari proses pertumbuhan, konglomerat baru ini akan menciptakan lapangan kerja baru buat sebagian masyarakat yang pendapatannya masih rendah. Ini akan membuat golongan masyarakat menengah yang besar sehingga kesenjangan pendapatan kembali mengecil.

Kurva Cuznet

Memang, beberapa studi mengkritik relevansi dari model ini namun jelas ada juga yang mendukung di kasus-kasus tertentu. Tetapi optimisme tetap diperlukan agar negara kita dapat terus memandang maju ke depan. Singkatnya, pemerintah jelas masih memiliki peran paling penting dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat Indonesia. Namun bukan berarti kita rakyat Indonesia tidak bisa turut andil di dalamnya. Semoga dengan jiwa wirausaha, kita dapat berperan dalam proses pembangunan ekonomi di negara kita.

Dirgahayu 66 Tahun Indonesia

Diterbitkan di Harian Waspada, 25 Agustus 2011, halaman B8.
Arisyi Raz
MSc Development Economics and Policy Student at University of Manchester.

1 comment: