Wednesday, 21 September 2011

Mampukah Euro Bertahan?

Pada Januari 1999, beberapa negara Eropa menyetujui penggunaan mata uang Euro sebagai mata uang regional yang mengganti mata uang lokal di masing-masing negara. Penerbitan mata uang Euro sebagai mata uang resmi sebagian negara Eropa ini jelas disambut dengan antusias baik di Eropa maupun di bagian dunia lainnya, seiring dengan besarnya visi dan harapan yang digantungkan kepada mata uang ini. Pada awalnya penggunaan mata uang Euro sebagai mata uang bersama ini dapat mengurangi biaya transaksi negara-negara Eropa dan merupakan sebuah langkah besar menuju economic integration.

Namun, lebih dari satu dekade kemudian, stabilitas dan kredibilitas Euro mulai tergoyang. Krisis berkepanjangan di Yunani yang diperkeruh krisis susulan di Irlandia, membuat orang mulai mempertanyakan apakah sebuah Monetary Union di Eropa adalah jalan yang tepat dalam menciptakan sebuah economic integration di Eropa. Dalam hal ini, keputusan untuk menangani krisis dari negara-negara besar Eropa seperti Perancis dan terutama Jerman sangatlah diperlukan dan ditunggu oleh semua pihak. Tahun lalu ketika krisis pertama kali terjadi, bail-out telah diberikan kepada negara-negara yang bermasalah. Tahun ini, krisis kembali terjadi dan menunggu keputusan berikutnya untuk diambil.

Sebuah blog ekonomi Eropa majalah The EconomistCharlemagne's notebook, menuliskan bahwa Jerman masih belum memberikan kejelasan mengenai sikap yang akan diambil dalam menghadapi krisis mata uang Euro ini. Padahal, keputusan Jerman sangatlah diperlukan untuk mengembalikan kembali kepercayaan terhadap mata uang tersebut. Ada beberapa kemungkinan langkah yang dapat diambil Jerman. Salah satunya dengan mem bail-out kembali negara-negara yang terkena masalah hutang. Namun hal tersebut hanya akan membuat negara-negara tersebut manja dan tidak menanggapi masalah ini dengan serius. Kemungkinan lainnya dengan mengeluarkan negara-negara bermasalah dari European Monetary Union. Tetapi ini akan berimpas kepada pasar ekspor Jerman karena negara-negara bermasalah tersebut akan terjun ke krisis yang lebih dalam jika dikeluarkan dari Euro.

Untuk Kedepannya
Pada saat ini, ada hal-hal pasti diperlukan untuk menyelamatkan Euro. Salah satu nya adalah kepastian mengenai negara mana yang dianggap bermasalah dan mengenai kemampuan bank-bank Eropa untuk menghindari kebankrutan. Kepastian ini penting untuk menjaga sentimen pasar internasional. Sudah beberapa minggu ini pasar internasional cenderung mendapat sentimen negatif akibat ketidakpastian ini. Sentimen ini menyerang negara-negara Eropa yang sebenarnya masih terbilang "likuid" seperti Spanyol dan Italia. Bila ini berkepanjangan, tentu negara-negara yang berada di ambang krisis ini dapat terseret oleh negara bermasalah seperti Yunani dan Irlandia. Bahkan sentimen ini terus berdampak kepada IHSG Indonesia dan mata uang Rupiah yang terus mendapat tekanan tajam sejak beberapa hari terakhir.

Hal lain yang diperlukan adalah sebuah restrukturisasi dan reformasi kebijakan fiskal negara-negara Eropa untuk lebih fokus kepada pertumbuhkan ekonomi. Selama ini pemerintah di negara-negara Eropa terlalu teracu kepada pemotongan anggaran negara. Sebuah restrukturisasi kebijakan tentunya akan bermanfaat jika dapat meingkatkan kembali performa ekonomi negara-negara Eropa dan memulihkan optimisme di dalam dinamika perekonomian global. Sebuah ide ekstrim disampaikan oleh beberapa orang penting di Jerman seperti Ursula von der Leyen (Menteri Tenaga Kerja) dan Gerhard Schroder (mantan Kanselir Jerman). Ide ini adalah penggabungan kebijakan fiskal negara-negara Eropa dengan membentuk Eropa Serikat. Walaupun ide ini terlihat sangat ekstrim dan mungkin memakan waktu yang lama, bukan tidak mungkin untuk benar-benar diimplementasikan. Singkatnya, apapun ide yang dikemukakan, bila ini dapat terealisasikan dengan baik, ini tentunya dapat dijadikan sebagai sebuah acuan untuk mencegah krisis yang sama di masa yang akan datang.

Oleh karena itu, kepastian dari Jerman dalam menghadapi krisis kali ini sangatlah krusial. Karena negara-negara Eropa sudah terjebak buah simalakama yang membuat pengambilan keputusan menjadi lebih sulit. Walaupun mungkin saat ini bisa performa mata uang Euro cukup buruk, penarikan mata uang Euro dari negara-negara Eropa tidak akan menyelesaikan masalah. Sebuah kalkulasi oleh bang asal Swiss, UBS, memprediksikan bahwa penarikan mata uang Euro dari peredaran akan memakan biaya yang sangat tinggi, yaitu sekitar 40-50% dari PDB negara kecil dan 20-25% dari PDB negara besar di tahun pertama. Pada akhirnya, marilah kita berharap keputusan Jerman adalah yang terbaik dan dapat meningkatkan kembali optimisme pasar di tengah paradoks perekonomian global.

No comments:

Post a Comment